Senin, 21 Juli 2014

Ada tangan penguasa arab saudi di balik genosida (pembantaian) israel trhadap warga palestine.

David Hearst menulis di Huffington Post, ada banyak tangan di belakang invasi militer Zionis-Israel terhadap Gaza. AS tidak senang terhadap Hamas. Amerika tetap menganggap Hamas sebagai kelompok teroris, yang harus dimusnahkan.

Rekaman  pembantaian di jalanan Shejaiya yang menewaskan 100 warga sipil Palestina, justru Menlu AS John Kerry, mengatakan pada NBC di "Meet the Presson", bahwa Israel punya hak membela diri, Minggu, 20/7/2014.

Duta Besar Amerika untuk Israel,  Dan Shapiro, mengatakan kepada Channel 2, berita telivisi Israel, Amerika  akan berusaha membantu kelompok moderat, menjadi lebih kuat di Gaza, yang berarti Otoritas Palestina yang dipimpin Mahmud Abbas .

Rezim Mesir di bawah Marsekal Al-Sisi, tidak menunjukkan perhatiannya dan kesedihan atas peristiwa yang terjadi di Gaza, dan sama sekali membiarkan terjadinya 'genosida' (pembantaian) terus berlangsung.

Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry menegaskan Hamas harus bertanggung jawab atas kematian warga sipil, setelah penolakan Hamas terhadap gencatan senjata.

Amerika, Mesir dan Zionis-Israel, memberi legitimasi kepada Netanyahu, ketiganya sebagai koalisi  'sesat' mendeklarasikan perang melawan Hamas. Zionis-Israel tidak mungkin dapat menutupi kejahatannya dengan melakukan operasi militer yang sangat biadab itu.

Tapi, Amerika sendiri tidak mungkin mendikte Zionis, tanpa dukungan negara Arab, dan izin operasi militer Zionis itu, hanya datang dari negara-negara Arab.

Serangan terhadap Hamas yang menguasai Gaza datang dari Raja Arab Saudi, Abdullah. Amerika, Mesir, Arab Saudi, Emirat Arab dan Zionis Israel, mereka memiliki pandangan yang sama, bahwa Hamas sebuah ancaman, dan harus dihancurkan. Kemudian mendudukan kelompok moderat al-Fatah yang dipimpin Mahmud Abbas. Skenario invasi militer Zionis-Israel ke Gaza, hanya melaksanakan agenda para pemimpin Arab.

Perintah kerajaan Arab Saudi itu, sudah menjadi sebuah rahasia umum di Israel. Di mana mantan  kedua pejabat pertahanan Arab Saudi dan Zionis-Israel, ketika mereka bertemu membahas tentang penghancuran Hamas.

Mantan menteri pertahanan Israel Shaul Mofaz, dan sangat mengejutkan presenter di Channel 10, dia  mengatakan bahwa peran Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sangat menentukan dalam invasi militer ke Gaza untuk menghancurkan kekuatan milliter Hamas, tuturnya.

Ketika ditanya apa yang dimaksud demiliterisasi atau penghancuran militer Hamas? Dia menambahkan, Saudi dan Emirat akan menggelontorkan dana, dan membangun kembali Gaza setelah Hamas hancur.

Ini persis seperti skenario yang berlangsung di Mesir terhadap Ikhwan. Al-Sisi membantai ribuan Ikhwan dan menghancurkan Jamaah Ikhwan, kemudian Saudi dan Emirat menggelontorkan miliaran dollar kepada Mesir.

Amos Gilad, yang menjadi penentu pembentukan kebijakan pertahanan Israel, dan menjalin kerjasama sejak Presiden Mesir Mubarak,  dan sekarang dia menjadi direktur kebijakan kementerian pertahanan Israel, dan dapertemen hubungan politik-militer.

Selanjutnya, Amos Gilad mengatakan, di Akademik James Dorsey, "Semuanya bersifat rahasia dan tertutup, tidak ada yang nampak di depan publik. Tapi kerjasama keamanan kami dengan Mesir dan negara-negara Teluk sangat unik. Ini adalah periode terbaik dari kerjasama keamanan dan hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab", tutur Amos Gilad.

Pernyataan Raja Abdullah, mengatakan  biarkan orang tahu, bahwa dia menelepon Presiden Abdel Fattah al-Sisi, dan menyetujui inisiatif gencatan senjata Mesir, yang jelas-jelas proposalnya belum diberikan kepada Hamas, dan menurut koran Jerusalem Post, yang mengutip seorang analis tentang apakah gencatan senjata itu pernah dimaksudkan serius?

Mossad dan pejabat intelijen Saudi bertemu secara teratur. Kedua belah pihak memberikan informasi, ketika mantan presiden Mesir Mohammad Mursi akan segera dilengserkan. Arab Saudi dan Zionis-Israel memiliki hubungan yang erat, khususnya dalam menghadapi Iran.

Termasuk dalam mempersiapkan  serangan Zionis-Israel terhadap Iran yang menggunakan kekuatan uang arab saudi...wallohua'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar