Jumat, 27 Mei 2016

bunda .aku gak mau sekolah


Seorang ibu sedang galau menghadapi anaknya yang mogok sekolah. Usia masuk SD membuatnya tak nyaman duduk  manis di sekolah. Ia lebih suka belajar dengan ibunya di rumah tentang apa saja. Masalahnya si ibu tak merasa mampu untuk terus mengajari anaknya segala hal yang seharusnya dipelajari si anak di sekolah.

Bunda salihah yang disayang Allah, apakah ilustrasi di atas terjadi pada Bunda dan sang putra tercinta? Bukan tidak mungkin cepat atau lambat hal itu menghampiri buah hati kita. Apalagi ketika Bunda hadir dengan sosok penuh cinta dan sabar terhadap anak, maka yakinlah tak ada guru mana pun yang sanggup menggantikannya. Tak heran bila kemudian si anak merasa kehilangan sosok indah ini saat ia harus duduk manis di sekolah. Berpisah dari bunda yang membuatnya nyaman beraktivitas, sungguh membuatnya tersiksa.

Ada beberapa sosok ibu yang begitu khawatir saat anaknya tidak mau sekolah. Ada yang membujuk bahkan taraf memaksa sang anak agar mau berangkat sekolah. Tak sedikit dari mereka memutuskan menghadap psikolog untuk mengetahui dan mencari solusi agar si anak mau bersekolah lagi.

Wahai bunda salihah, tak perlu galau atau cemas saat anak tak mau sekolah. Ibu dengan segala keistimewaan alami yang ada padanya, bisa kok menjadi guru bagi putra-putrinya. Seringkali yang menghinggapi bunda adalah ketidakPDan yang tanpa dasar. Merasa diri tidak pintar, tidak sabar, tidak cakap dan tidak-tidak lainnya.

...Ibu dengan segala keistimewaan alami yang ada padanya, bisa kok menjadi guru bagi putra-putrinya. Seringkali yang menghinggapi bunda adalah ketidakPDan yang tanpa dasar...

Sedikit saya ingin berbagi tentang kisah nyata yang pernah dimuat salah satu media terbesar di negeri ini. Seorang anak usia 10 tahun yang kemampuan akademiknya di atas rata-rata. Ia bisa mengerjakan soal matematika level SMA. Kemampuan berkomunikasi dan berbahasa baik Indonesia maupun Inggris juga bisa dibilang bagus. Kematangan emosi dan spiritualnya sangat mencolok. Sopan, patuh pada orang tua, rajin salat dan mengaji tanpa disuruh, membantu mengasuh adiknya dan lain sebagainya.

Apakah dia murid dari sekolah unggulan tertentu? Ya...ia adalah murid dari ibunda tercinta alias bersekolah dengan bunda di rumah. Awalnya ia adalah murid dari salah satu SD negeri dekat rumahnya. Ketika kelas 2 SD, ia menunjukkan sikap malas sekolah. Bosan, katanya. Prestasi belajarnya juga menurun. Tentu saja sang ibu bingung. Ia yakin anaknya bukan anak yang bodoh. Mau dimasukkan ke SD terpadu unggulan, tak ada biaya. Suaminya ‘hanyalah’ tukang becak yang pemasukan sehari-hari cukup untuk makan sekeluarga.

Akhirnya keputusan besar dia ambil. Anaknya belajar sendiri dengannya di rumah. Sekolahnya memang tidak tinggi yaitu setaraf lulusan SLTA. Tapi motivasi sebagai ibu yang ingin memberikan hal terbaik bagi anaknya, membuatnya berani mengambil keputusan itu. Tanpa banyak teori, ia pun mulai belajar lagi. Memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya meskipun dengan segala keterbatasan, adalah hal yang tak bisa ditawar. Dan hasilnya, anaknya tumbuh menjadi pembelajar yang bahagia.

Jadi Bunda, jangan ragu untuk segera mengambil keputusan besar saat dirasa sang buah hati lebih nyaman belajar dengan ibunya sendiri. Tak ada ibu yang sempurna, yang ada adalah ibu yang terus mau untuk belajar. Setidak sempurna apapun sosok ibu, dia adalah sosok paling sempurna dan istimewa di hadapan sang anak. Wallahu alam.

Rabu, 18 Mei 2016

beruntungnya punya anak soleh dan sholehah


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Kasus pemerkosaan terhadap Yuyun (14 tahun) di Bengkulu mengagetkan dunia pendidikan Indonesia. Siswi kelas 1 SMP ini meninggal dunia setelah digilir 14 ABG yang sedang mabuk. Jasad Yuyun dibuang ke dalam jurang sedalam 5 meter di Desa Kasie Kasubun, Padang Ulak Tanding, Bengkulu.

Kenakalan remaja yang sudah kelewat batas, tak mengenal norma dan belas kasih, tak tahu halal haram, dan memperturutkan syahwat;  gambaran terhadap 14 remaja tersebut.

Kesedihan bukan saja menimpa orang tua Yuyun. Orang tua dari 14 anak tersebut juga demikian. Dibuat malu dan menanggung susah atas kenakalan anak-anak mereka. Apa yang bisa diharapkan lebih dari anak-anak bermental demikian? Keshalihan dan doa baiknya?

Bagi orang tua, anak menjadi tumpuan masa tuanya. Bahkan ba’da wafatnya keberadaan anak shalih sangat berharga buat dirinya. Sehingga mendidik anak, membina akhlaknya, membesarkan dalam ketakwaaan dan keshalihan adalah kebutuhan dirinya sekaligus kewajiban dari Allah atasnya.

Ketika anak tumbuh dewasa dengan keshalihan, orang tua akan memperoleh pahala dari amal shalihnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya. Maksudnya, amal-amal shalih yang dikerjakan anaknya maka orang tuanya mendapatkan pahala seperti yang didapatkan anaknya, jika orang tuanya memiliki andil menunjukkannya kepada kebaikan, membiayai pendidikannya, atau mendoakannya.

Ini didasarkan kepada sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

مَن دعا إلى هُدًى، كان له من الأجْر مثلُ أُجُور مَن تبِعَه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئًا، ومَن دعا إلى ضلالة، كان عليْه من الإثْم مثلُ آثام مَن تبِعه لا ينقص ذلك من آثامِهِم شيئًا

“Siapa menyeru kepada petunjuk, ia mendapatkan pahalanya seperti pahala yang diperoleh orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan siapa yang menyeru kepada kesesatan, ia mendapatkan dosa seperti dosa yang didapatkan pengikutnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)

. . . Ketika anak tumbuh dewasa dengan keshalihan, orang tua akan memperoleh pahala dari amal shalihnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya. . .

Jika orang tua tidak pernah mengarahkan anaknya menjadi baik dan tidak mengajarkan persoalan agama kepadanya, maka orang tua tidak mendapatkan pahala atas amal-amal shalih anaknya. Karena ia tidak memiliki andil dalam keshalihan anaknya.

Lebih dari itu, anak-anak shalih mendoakan kebaikan untuk orang tuanya, memintakan ampunan dan rahmat untuknya. Inilah yang paling dibutuhkan seseorang di kuburnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal dunia maka (pahala) amalnya terputus kecuali 3 perkara: shodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Di hadits lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menerangan 7 amalan yang pahala akan terus mengalir kepada hamba saat ia berada di kuburnya setelah wafatnya. Salah satunya,

أو ترك ولداً يستغفر له بعد موته

“Atau meninggalkan anak yang memintakan ampunan untuknya setelah meninggalnya.” (HR. Al-Bazzar dalam Kasyful Astar dari Anas bin Malik. Dihassankan Syaikh Al-Albani di Shahih Al-Jami’, no. 3602)

وَرَجُلٌ تَرَكَ وَلَدًا صَالِحًا فَهُوَ يَدْعُو لَهُ

“Dan laki-laki yang meninggalkan anak shalih, anak itu mendoakan kebaikan untuknya.” (HR. Ahmad dan Al-Thabrani, dihassankan Al-Albani di Shahih al-Jami’, no. 877)

Syaikhul Islam di Majmu’ Fatawanya menyebutkan bahwa doa anak untuk orang tuanya memiliki keistimewaan karena anaknya termasuk dari usahanya. Seperti firman Allah Ta’ala,

مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (QS. Al-Masadd: 2) salah satu makna “apa yang ia usahaan” adalah anaknya.

Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Sesungguhnya makanan terbaik yang dimakan seseorang adalah hasil usahanya, dan sesungguhnya anak termasuk dari usahanya.”

Orang tua menjadi sebab adanya anak dan membesarkannya, maka amal anak termasuk dari usahanya sendiri. Berbeda dengan suadara, paman, keponaan dan selainnya, doa mereka bermanfaat untuk yang didoakan. Bahkan doa orang lain yang bukan kerabat juga bermanfaat. Tetapi doa tersebut bukan dari hasil usahanya sendiri. Berbeda dengan doa anak kandungnya yang telah dididiknya dengan baik.

Doa anak shalih mendatangkan keberkahan untuk orang tuanya. Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إن الله ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة فيقول: يا رب، أنى لي هذه؟ فيقول: باستغفار ولدك لك

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seoang hamba shalih di surga, lalu ia berkata: Wahai Tuhanku, darimana aku dapatkan semua ini? Kemudian Allah menjawab: Dengan sebab istighfar anakmu untuk dirimu.” (HR. Ahmad)

Imam Ibnu Katsir mengomentari hadits ini, “Sanadnya shahih”. Hadits ini memiliki penguat dari hadits Muslim tentang terputusnya amal seseorang sesudah meninggalnya kecuali tiga perkara. Wallahu A’lam

Semoga bermanfaat ammiin