...........السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته .....
Sahabat sekalian .mudah-mudahan sahabat semuanya ada pada lindungan NYA serta ada dalam rahmat NYA amin ya robbal alaamiiin.....
Saya sedikit lagi bingung, bukan karena bingung tak punya duit atau bingung belum punya pendamping (he he ..sedikit)
Tapi bingung akan pengertian apa yang di sebut berdoa????
Mungkin bagi sahabat sekalian sering mendengar "sabar dan berdoalah"...dua(2) kata yg mudah di ucapkan tapi pelaksanaan nya bukan main susah nya....
Iyaa kita sering berdoa.. Iya kita sering bersabar tapi di doa itu sendiri kita mungkin melupakan beberapa hal. Di antaranya syarat,doa kita terpenuhi atau di kabulkan ini bisa meliputi 'apa yang kita pakai.. Ntah itu sarung, celana, atau yg lainnya. Apakah didapat dari halal?? Atau malah sebaliknya??
Kemudian apa yang kita makan. Apakah makanan yang kita makan di dapatkan dengan cara halal? Apakah makanan kita di dapatkan secra haram??
Kemudia kita lihat dari perbuatan kita.. Apakah selama kita khususnya berinteraksi dengan manusia lainnya dapat merugikan seseorang???
Bukan tak mungkin doa kita belum di kabul kan itu terdapat sesuatu yang d haramkan oleh alloh s.w.t
Seumpamaan kita tiap malam berdoa ,sholat tahajud minta ini minta itu tapi barang yang kita gunakan didapat secara tidak halal .tetapi makanan yang kita makan di dapat secara tidak halal,tetapi perbuatan kita dapat merugikan orang lain..niscaya doa kita TERHALANG
ibarat kita mencuci baju tapi air nya dari limbah pembuangan atau air nya dari air yang ada najis nya ,apa baju kita bersih?? Jelas tidak
Terus yang kedua(2) sabar... Alloh s.w.t berfiman
انالله مع الصابرين "sesungguh nya alloh berserta orang yang sabar "kurang lebih bunyi seperti itu"
Ayat di atas memang benar adanya.. Tetapi sabar bukan main susah nya...
Kenapa saya katakan susah karena pangkat sabar kita paling rendah dari pada alim ulama... Ya kita khusus nya saya pribadi bukan ulama bukan pula qorang ajaib yang bisa menahan kesabaran di kala sedang marah di kala kita sedang di bakar amarah. Seakan kemarahan sudah menguasai hati.. Apakah kesabaran ada tingkatan nya.. ADA
Kesabaran kita khususnya umat akhir zaman di ibarat kan sudah di titik terendah
Kita flashback ke zaman nabi محمد صالله عليع وسلم
Beliau di olok di hina di lempar tetapi beliau sabar dan tetap menyebarkan syariat islam mnyebarkan aqidah islamiyah.
Nabi adam a.s di turunkan ke bumi di pisahkan dengan siti hawa A.s dengan beribu ribu mil jauh nya tetapi beliau sabar dan akhir nha di pertemukan tanah suci. Itu contoh kecil dari kesabaran dan tingkatan para nabi .
Waliyulloh,syeh jelas berbeda kesabaran nya dengan kita
Kita kadang-kadang ngedumel kalau kita kena musibah ,.
Yang sekolah ada pekerjaan rumah(PR) susah. Minta contekan ke kawan gak di kasih "ahk biarlah susah ini ko PR nya"
Gak di kerjakan
Yang berdagang .jualan nya sepi ngedumel "sepi amat ni "di kasih rame sampe2 lupa makan .bilang nya'"aduh banyak kerjaan ni cape"
Nah di sini kesabaran kita saya katakan paling rendah di antara hamba hamba alloh swt..apakah kesabaran kita perlu di pelihara dengan baik.?? Tentu..caranya perbanyak dzikir kurangi prasangka jelek
Apa yang saya katakan di atas bukan semata2 saya menggurui kawan semua tetapi untuk saling mengingatkan.. Betapa kehidupan di dunia ini tak lepas dari cobaan.. Entah itu cobaan enteng maupun cobaan yang maha berat..
Dan alangkah indah nya hidup kita di bumbui dengan berserah diri kepada yang maha kuasa serta berjalan di jalan NYA
Karena bukan tidak mungkin semakin kita dekat dengan NYA apa yang kita cita cita kan akan terkabul kan... Bukan tidak mungkin apa yang kita minta ajan segera di beri kan...
Sekian tulisan dari saya.. Kekurangan dan kesalahan nya saya harap maafkan karena hanya dengan kesalahan kita dapat memperbaiki nya...
وسلام عليكم ورحمت الله وبركاته
Dunia dan Akhirat
Berbagi ilmu berbagi pengalaman ..insya alloh
Jumat, 04 Mei 2018
Senin, 11 Desember 2017
intropeksi
اسلام عليكم
Salam sejahtera bagi kawan kawan semua
Semoga dalam kesempatan kali ini kita senantiasa ada dalam lindungan alloh swt.. Amin.
Salam sejahtera bagi kawan kawan semua
Semoga dalam kesempatan kali ini kita senantiasa ada dalam lindungan alloh swt.. Amin.
Dalam kesempatan kali ini saya ingin berbagi sedikit kisah atau lebih tepat nya sebuah artikel mengenai sifat .
Yang mana sifat ini terbagi dari beberapa macam.. Seperti sifat pemurah ,sifat iri maupun dengki dan banyak lagi sifat sifat yang lain.
Di antara sifat yang terdapat di diri kita ada yang di namakan sifat buruk, Nah kawan kwan barangkali sering mendengar kata kata kasar, kotor atau melihat seseorang berpringai jelek..
Sering kita atau saya pribadi melihat dan mendengar hal hal seperti yang saya utarakan di atas kadang kala nya orang seperti itu MUNGKIN bisa di kategorikan sifat jelek ..karena apa. ?
Banyak faktor sebab nya
Pertama lingkungang..
Sebuah lingkungan yang positif sedikit banyak nya bisa mempengaruhi sifat seseorang
Kedua watak...
Nah watak inilah yang rosululloh coba robah.. Kita contoh kan dulu zaman nya nabi berdakwah banyak menantang beliau dari kaum jahiliyyah .ada cacian ada makian ada pula yang mencoba membunuh beliau *artikel sifat kenabian bisa di lanjut ke blog slanjutnya*
Tapi pertolongan alloh swt senantiasa bersama beliau sehingga terciptalah umat akhir zaman yaitu kita
Kembali pada watak.. Kenapa watak bisa mempengaruhi sifat seseorang ..?karena watak adalah sifat bawaan seseorang yang mana bisa merobah nya
2 hal ini lah yang bisa seseorang mempredikatkan seseorang baik atau buruk
Tapi terkadang kita di buat geram kadang jengkel melihat seseorang "dia udah berumur tapi kelakuan dan omongan nya seperti anak baru gede " atau " dia bicara seolah dia yang paling sempurna dia yang paling bisa dia yang paling pintar " dan banyak lagi contoh nya..
Dan di sini lah kita perlu merevisi pandangan kita pendengaran kita
Ada pepatah mengatakan "diam itu emas."
Mengalah untuk menang
Memang benar itu adanya dari pada kita ikut nimbrung di sekeliling mereka dan ikut kepada hal hal yang dapat menjerumuskan kita
Saya punya pengalaman. Ada teman sesama satu kerjaan dia pintar dia ulet tapi sayang nya dia punya kelakuan yang menurut saya kurang respect dan banyak bicara hal hal yang jelek. bisa saya contohin. Suatu waktu kami jalan ke suatu pusat pembelanjaan di sana kami biasa saja beli ini beli itu tepat di saat kita mau pulang dia bicara 'mau ke tempat kawan dulu kamu tunggu di sini ya. ' kata dia
Saya jawab 'ok jangan lama'
Waktu itu jam menunjukan jam 16:30
Saya tunggu sampe sejam lebih belum nongol sejam setengah belum nongol..tepat seblum maghrib tiba 10 menitan lagi dia sms.. "Aku gak balik ke rumah. Kamu duluan aja balik. " saya jawab 'ok. Saya balik duluan'
Dan menurut hemat saya ini salah satu sifat buruk.
Saya kategorikan buruk karena ini sudah termasuk suatu kebohongan .sedangkan bohong itu termasuk sifat jelek...
Untuk itu marilah kita belajar dari diri kita sendiri seperti apa rasa nya kita berkata bohong
Dan seperti apa rasanya kita di bohongi
Dan banyak lagi sifat sifaf yang kurang pantas kita plihara..
Sekian untuk tulisan kali ini semoga bermanfaat.. Atas kekurangan nya saya mohon maaf..
2 hal ini lah yang bisa seseorang mempredikatkan seseorang baik atau buruk
Tapi terkadang kita di buat geram kadang jengkel melihat seseorang "dia udah berumur tapi kelakuan dan omongan nya seperti anak baru gede " atau " dia bicara seolah dia yang paling sempurna dia yang paling bisa dia yang paling pintar " dan banyak lagi contoh nya..
Dan di sini lah kita perlu merevisi pandangan kita pendengaran kita
Ada pepatah mengatakan "diam itu emas."
Mengalah untuk menang
Memang benar itu adanya dari pada kita ikut nimbrung di sekeliling mereka dan ikut kepada hal hal yang dapat menjerumuskan kita
Saya punya pengalaman. Ada teman sesama satu kerjaan dia pintar dia ulet tapi sayang nya dia punya kelakuan yang menurut saya kurang respect dan banyak bicara hal hal yang jelek. bisa saya contohin. Suatu waktu kami jalan ke suatu pusat pembelanjaan di sana kami biasa saja beli ini beli itu tepat di saat kita mau pulang dia bicara 'mau ke tempat kawan dulu kamu tunggu di sini ya. ' kata dia
Saya jawab 'ok jangan lama'
Waktu itu jam menunjukan jam 16:30
Saya tunggu sampe sejam lebih belum nongol sejam setengah belum nongol..tepat seblum maghrib tiba 10 menitan lagi dia sms.. "Aku gak balik ke rumah. Kamu duluan aja balik. " saya jawab 'ok. Saya balik duluan'
Dan menurut hemat saya ini salah satu sifat buruk.
Saya kategorikan buruk karena ini sudah termasuk suatu kebohongan .sedangkan bohong itu termasuk sifat jelek...
Untuk itu marilah kita belajar dari diri kita sendiri seperti apa rasa nya kita berkata bohong
Dan seperti apa rasanya kita di bohongi
Dan banyak lagi sifat sifaf yang kurang pantas kita plihara..
Sekian untuk tulisan kali ini semoga bermanfaat.. Atas kekurangan nya saya mohon maaf..
Jumat, 27 Mei 2016
bunda .aku gak mau sekolah
Seorang ibu sedang galau menghadapi anaknya yang mogok sekolah. Usia masuk SD membuatnya tak nyaman duduk manis di sekolah. Ia lebih suka belajar dengan ibunya di rumah tentang apa saja. Masalahnya si ibu tak merasa mampu untuk terus mengajari anaknya segala hal yang seharusnya dipelajari si anak di sekolah.
Bunda salihah yang disayang Allah, apakah ilustrasi di atas terjadi pada Bunda dan sang putra tercinta? Bukan tidak mungkin cepat atau lambat hal itu menghampiri buah hati kita. Apalagi ketika Bunda hadir dengan sosok penuh cinta dan sabar terhadap anak, maka yakinlah tak ada guru mana pun yang sanggup menggantikannya. Tak heran bila kemudian si anak merasa kehilangan sosok indah ini saat ia harus duduk manis di sekolah. Berpisah dari bunda yang membuatnya nyaman beraktivitas, sungguh membuatnya tersiksa.
Ada beberapa sosok ibu yang begitu khawatir saat anaknya tidak mau sekolah. Ada yang membujuk bahkan taraf memaksa sang anak agar mau berangkat sekolah. Tak sedikit dari mereka memutuskan menghadap psikolog untuk mengetahui dan mencari solusi agar si anak mau bersekolah lagi.
Wahai bunda salihah, tak perlu galau atau cemas saat anak tak mau sekolah. Ibu dengan segala keistimewaan alami yang ada padanya, bisa kok menjadi guru bagi putra-putrinya. Seringkali yang menghinggapi bunda adalah ketidakPDan yang tanpa dasar. Merasa diri tidak pintar, tidak sabar, tidak cakap dan tidak-tidak lainnya.
...Ibu dengan segala keistimewaan alami yang ada padanya, bisa kok menjadi guru bagi putra-putrinya. Seringkali yang menghinggapi bunda adalah ketidakPDan yang tanpa dasar...
Sedikit saya ingin berbagi tentang kisah nyata yang pernah dimuat salah satu media terbesar di negeri ini. Seorang anak usia 10 tahun yang kemampuan akademiknya di atas rata-rata. Ia bisa mengerjakan soal matematika level SMA. Kemampuan berkomunikasi dan berbahasa baik Indonesia maupun Inggris juga bisa dibilang bagus. Kematangan emosi dan spiritualnya sangat mencolok. Sopan, patuh pada orang tua, rajin salat dan mengaji tanpa disuruh, membantu mengasuh adiknya dan lain sebagainya.
Apakah dia murid dari sekolah unggulan tertentu? Ya...ia adalah murid dari ibunda tercinta alias bersekolah dengan bunda di rumah. Awalnya ia adalah murid dari salah satu SD negeri dekat rumahnya. Ketika kelas 2 SD, ia menunjukkan sikap malas sekolah. Bosan, katanya. Prestasi belajarnya juga menurun. Tentu saja sang ibu bingung. Ia yakin anaknya bukan anak yang bodoh. Mau dimasukkan ke SD terpadu unggulan, tak ada biaya. Suaminya ‘hanyalah’ tukang becak yang pemasukan sehari-hari cukup untuk makan sekeluarga.
Akhirnya keputusan besar dia ambil. Anaknya belajar sendiri dengannya di rumah. Sekolahnya memang tidak tinggi yaitu setaraf lulusan SLTA. Tapi motivasi sebagai ibu yang ingin memberikan hal terbaik bagi anaknya, membuatnya berani mengambil keputusan itu. Tanpa banyak teori, ia pun mulai belajar lagi. Memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya meskipun dengan segala keterbatasan, adalah hal yang tak bisa ditawar. Dan hasilnya, anaknya tumbuh menjadi pembelajar yang bahagia.
Jadi Bunda, jangan ragu untuk segera mengambil keputusan besar saat dirasa sang buah hati lebih nyaman belajar dengan ibunya sendiri. Tak ada ibu yang sempurna, yang ada adalah ibu yang terus mau untuk belajar. Setidak sempurna apapun sosok ibu, dia adalah sosok paling sempurna dan istimewa di hadapan sang anak. Wallahu alam.
Rabu, 18 Mei 2016
beruntungnya punya anak soleh dan sholehah
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Kasus pemerkosaan terhadap Yuyun (14 tahun) di Bengkulu mengagetkan dunia pendidikan Indonesia. Siswi kelas 1 SMP ini meninggal dunia setelah digilir 14 ABG yang sedang mabuk. Jasad Yuyun dibuang ke dalam jurang sedalam 5 meter di Desa Kasie Kasubun, Padang Ulak Tanding, Bengkulu.
Kenakalan remaja yang sudah kelewat batas, tak mengenal norma dan belas kasih, tak tahu halal haram, dan memperturutkan syahwat; gambaran terhadap 14 remaja tersebut.
Kesedihan bukan saja menimpa orang tua Yuyun. Orang tua dari 14 anak tersebut juga demikian. Dibuat malu dan menanggung susah atas kenakalan anak-anak mereka. Apa yang bisa diharapkan lebih dari anak-anak bermental demikian? Keshalihan dan doa baiknya?
Bagi orang tua, anak menjadi tumpuan masa tuanya. Bahkan ba’da wafatnya keberadaan anak shalih sangat berharga buat dirinya. Sehingga mendidik anak, membina akhlaknya, membesarkan dalam ketakwaaan dan keshalihan adalah kebutuhan dirinya sekaligus kewajiban dari Allah atasnya.
Ketika anak tumbuh dewasa dengan keshalihan, orang tua akan memperoleh pahala dari amal shalihnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya. Maksudnya, amal-amal shalih yang dikerjakan anaknya maka orang tuanya mendapatkan pahala seperti yang didapatkan anaknya, jika orang tuanya memiliki andil menunjukkannya kepada kebaikan, membiayai pendidikannya, atau mendoakannya.
Ini didasarkan kepada sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
مَن دعا إلى هُدًى، كان له من الأجْر مثلُ أُجُور مَن تبِعَه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئًا، ومَن دعا إلى ضلالة، كان عليْه من الإثْم مثلُ آثام مَن تبِعه لا ينقص ذلك من آثامِهِم شيئًا
“Siapa menyeru kepada petunjuk, ia mendapatkan pahalanya seperti pahala yang diperoleh orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan siapa yang menyeru kepada kesesatan, ia mendapatkan dosa seperti dosa yang didapatkan pengikutnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)
. . . Ketika anak tumbuh dewasa dengan keshalihan, orang tua akan memperoleh pahala dari amal shalihnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya. . .
Jika orang tua tidak pernah mengarahkan anaknya menjadi baik dan tidak mengajarkan persoalan agama kepadanya, maka orang tua tidak mendapatkan pahala atas amal-amal shalih anaknya. Karena ia tidak memiliki andil dalam keshalihan anaknya.
Lebih dari itu, anak-anak shalih mendoakan kebaikan untuk orang tuanya, memintakan ampunan dan rahmat untuknya. Inilah yang paling dibutuhkan seseorang di kuburnya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal dunia maka (pahala) amalnya terputus kecuali 3 perkara: shodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Di hadits lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menerangan 7 amalan yang pahala akan terus mengalir kepada hamba saat ia berada di kuburnya setelah wafatnya. Salah satunya,
أو ترك ولداً يستغفر له بعد موته
“Atau meninggalkan anak yang memintakan ampunan untuknya setelah meninggalnya.” (HR. Al-Bazzar dalam Kasyful Astar dari Anas bin Malik. Dihassankan Syaikh Al-Albani di Shahih Al-Jami’, no. 3602)
وَرَجُلٌ تَرَكَ وَلَدًا صَالِحًا فَهُوَ يَدْعُو لَهُ
“Dan laki-laki yang meninggalkan anak shalih, anak itu mendoakan kebaikan untuknya.” (HR. Ahmad dan Al-Thabrani, dihassankan Al-Albani di Shahih al-Jami’, no. 877)
Syaikhul Islam di Majmu’ Fatawanya menyebutkan bahwa doa anak untuk orang tuanya memiliki keistimewaan karena anaknya termasuk dari usahanya. Seperti firman Allah Ta’ala,
مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
“Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (QS. Al-Masadd: 2) salah satu makna “apa yang ia usahaan” adalah anaknya.
Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Sesungguhnya makanan terbaik yang dimakan seseorang adalah hasil usahanya, dan sesungguhnya anak termasuk dari usahanya.”
Orang tua menjadi sebab adanya anak dan membesarkannya, maka amal anak termasuk dari usahanya sendiri. Berbeda dengan suadara, paman, keponaan dan selainnya, doa mereka bermanfaat untuk yang didoakan. Bahkan doa orang lain yang bukan kerabat juga bermanfaat. Tetapi doa tersebut bukan dari hasil usahanya sendiri. Berbeda dengan doa anak kandungnya yang telah dididiknya dengan baik.
Doa anak shalih mendatangkan keberkahan untuk orang tuanya. Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إن الله ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة فيقول: يا رب، أنى لي هذه؟ فيقول: باستغفار ولدك لك
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seoang hamba shalih di surga, lalu ia berkata: Wahai Tuhanku, darimana aku dapatkan semua ini? Kemudian Allah menjawab: Dengan sebab istighfar anakmu untuk dirimu.” (HR. Ahmad)
Imam Ibnu Katsir mengomentari hadits ini, “Sanadnya shahih”. Hadits ini memiliki penguat dari hadits Muslim tentang terputusnya amal seseorang sesudah meninggalnya kecuali tiga perkara. Wallahu A’lam
Semoga bermanfaat ammiin
Selasa, 07 Juli 2015
di kala kalimat tauhid bergema
Pukul lima sore sudah lama berlalu. Maghrib memang masih belum waktunya. Sang artis terkenal itu bergegas menunaikan sholat Ashar. Ada perasaan bersalah yang susah payah ditepisnya. Tapi mau bagaimana lagi? Jadualnya memang padat.
Usai sholat, dia berniat berdoa. Bukan karena ada permohonan khusus, melainkan karena kebiasaan atau refeks saja. Namun ada SMS masuk ke telepon selulernya. Dari managernya. Ada order gede, dan dia diminta segera menemui si Bos. Sekarang, karena tidak ada waktu lagi, dan si Bos sangat sibuk. Sang artis dengan cepat memutuskan untuk membatalkan doanya, menuju kendaraan, dan memacunya. Ia tahu maghrib sudah menjelang. Namun ia memutuskan untuk ‘lihat bagaimana nantilah!’
Di perjalanan, adzan berkumandang. Nuraninya pun menyapa lembut, namun gelisah. Begitu tinggikah penghargaannya kepada si Bos? Sebegitu tingginya sehingga mengalahkan penghargaannya kepada Sang Pemberi Rizki? Demikian gugat sang nurani. Perasaan bersalah mengaliri seluruh jiwanya. Ia tahu, ia harus berubah. Ia juga tahu, ia tidak boleh menunda. Akhirnya ia putuskan, jika bertemu Masjid terdekat ia akan berhenti. Bagaimana janji bertemu si Bos? Biarlah Allah yang mengurus rizkinya. Demikian pikir Sang Artis.
Sang Artis menuturkan pengalaman ini kepada saya, yang mendengarkan dengan ta’zim. Sebenarnya Saya jarang bertemu artis manapun, apalagi artis papan atas. Di sisi lain, Saya sendiri memang tidak pernah berkeinginan untuk bertemu artis manapun.
Namun artis yang satu ini memang berbeda. Ia memiliki semangat untuk membantu syiar keIslaman. Walaupun belum sepenuhnya lepas dari kehidupan glamour, namun keinginannya untuk berbuat sesuatu terhadap Islam memancing simpati Saya.
Akhirnya mereka bertemu. Sang artis bersedia memberikan sedikit tausyiah untuk remaja, dengan bayaran yang nyaris gratis untuk ukuran seorang artis. Dan Sang artis pun menceritakan salah satu pengalaman rohaninya, sebagaimana dikisahkan di awal tulisan ini.
* * * * *
“Sebenarnya kisah Artis tadi adalah salah satu pelajaran tentang ketauhidan”, demikian kata salah seorang Ustadz di Masjid tempat saya tinggal.
“Tauhid? Apakah benar sedalam itu, Ustadz?” tanya saya keheranan.
“Ya, cerita tadi memang kecil dan sederhana, namun hakikatnya sungguh dalam. Cerita tadi adalah salah satu fragment tentang ketauhidan. Betapa tidak. Teori tauhid memang mengajarkan kita untuk meyakini bahwa hanya Allah Yang Maha Pemberi Rizki. Namun implementasi tauhid kita sering kali jauh dari itu.
“Kita masih lebih sering ‘memohon’ kepada atasan atau manusia-manusia lain yang kita anggap dapat mengalirkan rizki kepada kita. Kita juga lebih takut kepada mereka. Juga lebih berharap. Di mata kita, mereka sangat berwibawa dan sangat patut dihormati.
“Untuk itu, kadang-kadang kita rela mengorbankan hal-hal yang sebenarnya prinsip. Menggeser-geser, bahkan meninggalkan sholat, hanya karena harus mengejar deadline tugas yang diberikan oleh si Bos, adalah contoh sederhana namun sering kita temui sehari-hari”, demikian urai Sang Ustadz.
“Gejala lainnya adalah kita jadi sering malas berdoa, karena rasanya ‘kurang konkret’. Jauh lebih konkret bekerja dan ‘memohon’ kepada orang-orang yang ‘memberi’ rizki kepada kita.
“Sholat kita pun jadi kering. Kita tidak sungguh-sungguh merasakan kehadiran Allah di hadapan kita. Karena sebelum sholat kita tidak mempersiapkan jiwa untuk memohon dan meminta. Kita tidak menyiapkan proposal apapun ketika menghadap kepadaNya. Kenapa? Karena kita memang tidak sungguh-sungguh merasa menghadap kepadaNya.
“Bandingkan ketika kita membuat proposal fund raising atau ih kuat dari pada kepada Allah. ” Tandas Sang Ustadz.
Saya dan beberapa jama’ah lainnya manggut-manggut.
“Tapi bukankah Islam mengajarkan kita untuk bekerja profesional dan sungguh-sungguh?” Salah seorang jamaah mencoba mengklarifikasi.
“Betul sekali. Profesional berarti bekerja sesuai standar dan etika profesi yang bersangkutan. Jika profesinya dokter, bekerjalah sesuai standar dan etika kedokteran. Demikian pula arsitek, teknisi, IT, guru, bahkan mungkin da’i. Dan setahu saya, tak satu profesi pun yang mengajarkan kecurangan dan ketidaketisan”, demikian penjelasan Sang Ustadz.
“Kadang-kadang, saya sengaja menunda waktu sholat, karena pekerjaan belum selesai. Saya merasa lebih profesional jika pekerjaan sudah selesai, baru mengerjakan sholat”, orang tadi masih mencoba menjelaskan argumentasinya.
Sang Ustadz tersenyum. Kemudian menjawab dengan tenang, “Sebenarnya memang tergantung profesinya. Kalau profesi Anda adalah seorang dokter, apalagi dokter bedah, memang tidak bijaksana meninggalkan pasien dengan luka menganga. Walaupun sedapat mungkin kita menjadualkan pembedahan dengan perkiraan tidak melampaui waktu sholat. Namun terkadang hal itu memang sulit dilakukan.
“Ada pula profesi pemadam kebakaran, juga polisi yang sedang dalam operasi menangkap pelaku tindak kriminal. Namun itu semua adalah profesi khusus, sehingga memang perlu perlakuan khusus. Sedangkan yang saya maksud dalam penjelasan di atas adalah profesi yang umum, yaitu orang-orang dengan jadual kerja yang teratur. Jam masuk kantornya jelas, jam istirahatnya pasti, begitu pula jam pulangnya. ”
“Ustadz, adakah contoh lain selain menunda-nunda sholat?” Tanya jama’ah yang lain.
“Ada. Misalnya, enggan membayar zakat, apalagi infaq. Kita tahu, zakat itu sudah jelas ukurannya. Sedangkan infaq itu bebas besarnya. Nah, karena begitu takutnya kita akan kekurangan rizki, kita malas mengeluarkan zakat dan infaq. Tanda bahwa kita malas adalah kita ketika kita tidak menyediakan anggaran khusus atau rutin untuk kedua pos itu.
“Kita tidak begitu yakin dengan janji Allah, bahwa DIA akan mencukupi seluruh kebutuhan kita. Kita takut miskin karena berinfaq.
“Jadi, semuanya kembali berakar kepada ketauhidan”, jelas Sang Ustadz.
“Nah, mulai sekarang, klo ada calling dari alloh swt .segeralah dirikan' ujar ustadz sambil tersenyum
Fenomena bulan puasa di negara indonesia
Sebuah fenomena sangat luar biasa ibadah puasa di bulan Ramadhan di Indonesia. Ini belum ada yang menyamai semaraknya, dibanding dengan kegiatan apapun.
Secara visual, bukan hanya kegiatan shalat tarawih di masjid dan mushola, tapi acara 'berbuka puasa bersama' (bukber), sangat fenomenal. Puasa seperti menjadi sebuah 'fashion' yang tidak pernah ada padanannya.
Di masjid dan mushola di setiap kampung, selalu melakukan acara buka puasa bersama di bulan Ramadhan, mulai makanan yang sangat sederhana, sampai dengan menu makanan yang sangat enak, terutama di masjid dan mushola di komplek-komplek perumahan.
Namun, sekarang yang menjadi fenomena dan model baru di kalangan masyaeakat 'urban' perkotaan, menjelang magrib, saat berbuka puasa, begitu sangat luar biasa, aktifitas berbuka puasa di bulan Ramadhan ini.
Di rumah-rumah makan, cafe, mall, hotel, kantor, kampus-kampus, dan bahkan warung-warung di pinggir jalan begitu sibuk saat menjelang magrib. Jalan-jalan macet, mereka seperti berbarengan keluar rumah mencari berbagai makanan, kue, dan buah, alias 'ngabuburit', dan ini menjadi sangat fenomenal.
Di mana-mana sibuk dan macet menjelang magrib. Mobilitas masyarakat begitu sangat luar biasa, saat menjelang magrib. Bahkan, mall-mall dan hotel sampai larut malam, menjelang hampir jam 23.00 malam. Terkadang di hotel-hotel menyelenggarakan shalat tarawih. Terutama dikalangan kelas menengah atas, sering menyelenggarakan acara kegiatan berbuka puasa.
Jalan-jalan tol macet, sampai menjelang tengah malam. Mereka baru keluar dari mall, hotel, cafe, rumah-rumah makan, dan tempat-tempat acara untuk berbuka bersama keluarga. Tapi, sekarang yang paling fenomenal, yiatu banyaknya anak-anak muda, yang menjadi acara berbuka puasa itu, sebagai sebagai 'fashion' baru. Inilah yang terjadi dikalangan muda di perkotaan alias masyarakat urban.
Tentu, ini seperti menjadi kekecualian, di mana saat Indonesia dicekik dengan krisis ekonomi yang sangat hebat, tapi kalau melihat fenomena anak-anak muda dan kalangan keluarga yang menyelenggarakan acara berbuka puasa berssama di berbagai tempat, dan ini bukan hanya di Jakarta. Tapi, kegiatan ini seluruh kota-kota besar di Indonesia, berlangsung kegiatan serupa.
Di tengah krisis ekonomi di Indonesia yang hebat, sebagian usaha terselamatkan dengan berbagai aktifitas Ramadhan ini. Berapa banyak keuntungan yang didapatkan dari mall, cafe, warung makanan, toko kue, hotel-hotel, dan berbagai tempat yang menyelenggarakan kegiatan berbuka puasa itu.
Belum lagi, sektor garmen, pakaian yang sekarang ini sedang dilanda krisis, tentu mendapatkan berkah dari Ramadhan. Baju-baju 'muslim' laris manis dibeli oleh berbagai kalangan Muslim dengan sangat antusias. Demi menyambut Ramadhan dan Idul Fitri.
Mereka mendapatkan berkah Ramadhan. Berapa banyak duit yang dibelanjakan masyarakat, dan berapa banyak keuntungan yang diperoleh selama Ramadhan ini? Sangat besar.
Ramadhan juga membawa kehidupan sosial lebih humanis (manusiawi), di mana shadaqah, infaq, dan zakat diberikan kepada fakir miskin. Orang-orang kaya bersedekah kepada fakir miskin, meskipun ini masih sangat relatif kecil.
Tapi, setidaknya uang yang berada di 'kantong' para 'aghniya' (orang kaya) menetes kepada orang miskin. Ini terjadinya distribusi kekayaana secara alamiah.
Belum lagi, ketika nanti mudik puluhan juta penduduk kota-kota besar di Indonesia, pulang kampung, dan membawa uang yang tidak sedikit, jumlah bisa menjadi ratusan tiliun. Sebuah laporan penelitian, uang yang dibawa para pemudik dari kota-kota besar, jumlah lebih dari Rp.200 triliun. Mengalir ke desa-desa.
Islam mengajarkan kemuliaan di antara para pemeluknya. Seperti silaturrahim atau silaturrahmi, ukhuwah dan mencintai sesama Muslim, dan berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain), ini menyebabkan setiap Muslim rela berkorban, pergi ke tempat-tempat yang sangat jauh, supaya dapat bertemu dengan sanak familinya.
Belum mereka yang menjadi migran (pekerja) di luar negeri, yang pulang kampung, dan mereka membawa uang yang tidak sedikit. Ini berdampak terhadap kehidupan rakyat di pedesaan.
Semua itu, berkah dari Ramadhan, dan sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kehidupan. Terjadi proses distribusi kekayaan yang sangat signifikan, tanpa melalui kebijakna pemerintah.
Dengan Ramadhan, kehidupan rakyat menjadi berdenyut, dan hidup kembali, di tengah himpitan krisis yang sangat menyiksa ini. Betapa Ramadhan yang begitu semarak, menjadi tanda sebuah kehidupan ini berkah, dan setiap Muslim mendapatkan berkahnya, termasuk kepada orang-orang non-muslim, dari kegiatan ekonomi mereka.
Kesadaran kolektif semakin tumbuh dikalangan Muslim melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebagian puasa masih sebagai 'fashion', belum lagi menjadi bagian keimanan dan keyakinan mereka, dan membuat mereka sungguh-sungguh dalam menjalankannya.
Sekarang, puasa tinggal 9 hari lagi, dan sebagian kalangan muda, mulai beribadah lebih serius lagi dengan melakukan 'i'tikaf' di berbagai masjid di seluruh Indonesia.
Mereka ingin mendapatkan 'maghfirah' (ampunan) dari Allah Tabarakallahu Ta'ala. Apalagi, saat sepuluh hari terakhir, di saat akan dijanjikan 'lailatur qadar', bulan yang lebih agung, dan akan mendapatkan ampunan bagi Muslim.
Semakin tahun semakin terasa denyut dari Ramdhan bagi kehidupan Muslim, dan bangsa Indonesia. Terasa tentram dan menyejukan.
Masyarakat terus berusaha mengubah puasa Ramadhan sebagai ibadah dan taqarrub (mendekatkan) diri kepada Rabbnya, dan menjadi pribadi yang lebih mulia dengan mengendalikan 'perut'. Tidak lagi menjadi hamba 'perut'.
Meskipun, sekarang ini puasa yang nampak dan baru menjadi 'fashion' yang masih berhubungan dengan perut. Di mana kegiatan berbuka puasa bersama seperti menjadi 'trend sosial' di mana-mana.
Semoga puasa di bulan Ramadhan, benar-benar akan menjadikan Mukmin yang muttaqin, dan mendapatkan kemenangan melawan hawa nafsu. Manusia banyak yang kalah melawan hawa nafsu, terutama nafsu keinginan. Semoga. Wallahu'alam.
Secara visual, bukan hanya kegiatan shalat tarawih di masjid dan mushola, tapi acara 'berbuka puasa bersama' (bukber), sangat fenomenal. Puasa seperti menjadi sebuah 'fashion' yang tidak pernah ada padanannya.
Di masjid dan mushola di setiap kampung, selalu melakukan acara buka puasa bersama di bulan Ramadhan, mulai makanan yang sangat sederhana, sampai dengan menu makanan yang sangat enak, terutama di masjid dan mushola di komplek-komplek perumahan.
Namun, sekarang yang menjadi fenomena dan model baru di kalangan masyaeakat 'urban' perkotaan, menjelang magrib, saat berbuka puasa, begitu sangat luar biasa, aktifitas berbuka puasa di bulan Ramadhan ini.
Di rumah-rumah makan, cafe, mall, hotel, kantor, kampus-kampus, dan bahkan warung-warung di pinggir jalan begitu sibuk saat menjelang magrib. Jalan-jalan macet, mereka seperti berbarengan keluar rumah mencari berbagai makanan, kue, dan buah, alias 'ngabuburit', dan ini menjadi sangat fenomenal.
Di mana-mana sibuk dan macet menjelang magrib. Mobilitas masyarakat begitu sangat luar biasa, saat menjelang magrib. Bahkan, mall-mall dan hotel sampai larut malam, menjelang hampir jam 23.00 malam. Terkadang di hotel-hotel menyelenggarakan shalat tarawih. Terutama dikalangan kelas menengah atas, sering menyelenggarakan acara kegiatan berbuka puasa.
Jalan-jalan tol macet, sampai menjelang tengah malam. Mereka baru keluar dari mall, hotel, cafe, rumah-rumah makan, dan tempat-tempat acara untuk berbuka bersama keluarga. Tapi, sekarang yang paling fenomenal, yiatu banyaknya anak-anak muda, yang menjadi acara berbuka puasa itu, sebagai sebagai 'fashion' baru. Inilah yang terjadi dikalangan muda di perkotaan alias masyarakat urban.
Tentu, ini seperti menjadi kekecualian, di mana saat Indonesia dicekik dengan krisis ekonomi yang sangat hebat, tapi kalau melihat fenomena anak-anak muda dan kalangan keluarga yang menyelenggarakan acara berbuka puasa berssama di berbagai tempat, dan ini bukan hanya di Jakarta. Tapi, kegiatan ini seluruh kota-kota besar di Indonesia, berlangsung kegiatan serupa.
Di tengah krisis ekonomi di Indonesia yang hebat, sebagian usaha terselamatkan dengan berbagai aktifitas Ramadhan ini. Berapa banyak keuntungan yang didapatkan dari mall, cafe, warung makanan, toko kue, hotel-hotel, dan berbagai tempat yang menyelenggarakan kegiatan berbuka puasa itu.
Belum lagi, sektor garmen, pakaian yang sekarang ini sedang dilanda krisis, tentu mendapatkan berkah dari Ramadhan. Baju-baju 'muslim' laris manis dibeli oleh berbagai kalangan Muslim dengan sangat antusias. Demi menyambut Ramadhan dan Idul Fitri.
Mereka mendapatkan berkah Ramadhan. Berapa banyak duit yang dibelanjakan masyarakat, dan berapa banyak keuntungan yang diperoleh selama Ramadhan ini? Sangat besar.
Ramadhan juga membawa kehidupan sosial lebih humanis (manusiawi), di mana shadaqah, infaq, dan zakat diberikan kepada fakir miskin. Orang-orang kaya bersedekah kepada fakir miskin, meskipun ini masih sangat relatif kecil.
Tapi, setidaknya uang yang berada di 'kantong' para 'aghniya' (orang kaya) menetes kepada orang miskin. Ini terjadinya distribusi kekayaana secara alamiah.
Belum lagi, ketika nanti mudik puluhan juta penduduk kota-kota besar di Indonesia, pulang kampung, dan membawa uang yang tidak sedikit, jumlah bisa menjadi ratusan tiliun. Sebuah laporan penelitian, uang yang dibawa para pemudik dari kota-kota besar, jumlah lebih dari Rp.200 triliun. Mengalir ke desa-desa.
Islam mengajarkan kemuliaan di antara para pemeluknya. Seperti silaturrahim atau silaturrahmi, ukhuwah dan mencintai sesama Muslim, dan berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain), ini menyebabkan setiap Muslim rela berkorban, pergi ke tempat-tempat yang sangat jauh, supaya dapat bertemu dengan sanak familinya.
Belum mereka yang menjadi migran (pekerja) di luar negeri, yang pulang kampung, dan mereka membawa uang yang tidak sedikit. Ini berdampak terhadap kehidupan rakyat di pedesaan.
Semua itu, berkah dari Ramadhan, dan sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kehidupan. Terjadi proses distribusi kekayaan yang sangat signifikan, tanpa melalui kebijakna pemerintah.
Dengan Ramadhan, kehidupan rakyat menjadi berdenyut, dan hidup kembali, di tengah himpitan krisis yang sangat menyiksa ini. Betapa Ramadhan yang begitu semarak, menjadi tanda sebuah kehidupan ini berkah, dan setiap Muslim mendapatkan berkahnya, termasuk kepada orang-orang non-muslim, dari kegiatan ekonomi mereka.
Kesadaran kolektif semakin tumbuh dikalangan Muslim melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebagian puasa masih sebagai 'fashion', belum lagi menjadi bagian keimanan dan keyakinan mereka, dan membuat mereka sungguh-sungguh dalam menjalankannya.
Sekarang, puasa tinggal 9 hari lagi, dan sebagian kalangan muda, mulai beribadah lebih serius lagi dengan melakukan 'i'tikaf' di berbagai masjid di seluruh Indonesia.
Mereka ingin mendapatkan 'maghfirah' (ampunan) dari Allah Tabarakallahu Ta'ala. Apalagi, saat sepuluh hari terakhir, di saat akan dijanjikan 'lailatur qadar', bulan yang lebih agung, dan akan mendapatkan ampunan bagi Muslim.
Semakin tahun semakin terasa denyut dari Ramdhan bagi kehidupan Muslim, dan bangsa Indonesia. Terasa tentram dan menyejukan.
Masyarakat terus berusaha mengubah puasa Ramadhan sebagai ibadah dan taqarrub (mendekatkan) diri kepada Rabbnya, dan menjadi pribadi yang lebih mulia dengan mengendalikan 'perut'. Tidak lagi menjadi hamba 'perut'.
Meskipun, sekarang ini puasa yang nampak dan baru menjadi 'fashion' yang masih berhubungan dengan perut. Di mana kegiatan berbuka puasa bersama seperti menjadi 'trend sosial' di mana-mana.
Semoga puasa di bulan Ramadhan, benar-benar akan menjadikan Mukmin yang muttaqin, dan mendapatkan kemenangan melawan hawa nafsu. Manusia banyak yang kalah melawan hawa nafsu, terutama nafsu keinginan. Semoga. Wallahu'alam.
posted from Bloggeroid
Minggu, 05 Juli 2015
Ngabuburit
Ngabuburit adalah satu istilah dari bahasa Sunda yang artinya menunggu datangnya waktu maghrib atau menunggu matahari sore terbenam. Sudah bertahun tahun kebiasaan ini dilakukan oleh masyarakat Sunda (Jawa Barat) khususnya anak-anak muda, akan tetapi keluarga muda (orang muda yang sudah berumah tangga) pun kadang tak ketinggalan ikut berbaur menikmati waktu sore yang cerah.
Mereka anak-anak muda akan keluar rumah masing-masing setelah waktu ‘ashar, lalu secara bergerombol atau perorangan pergi ke alun-alun atau ke tempat keramaian atau juga sekedar jalan-jalan di sekitar jalan alun-alun. Bagi para ibu mungkin hanya sekedar keluar rumah dan bertandang di halaman rumah tetangga. Nah kebiasaan inilah yang disebut ngabuburit.
Kalau di pelosok – pelosok perkampungan Sunda waktu lalu, menunggu datangnya waktu magrib, bagi yang sudah berkeluarga, mereka mengisi waktu dengan menganyam tikar (yang bahan dasarnya dari daun pandan yang telah diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi tali putih yang siap dijadikan tikar pandan) di halaman rumah masing-masing sambil bersenda gurau atau ngobrol tentang kejadian apa yang mereka alami di sawah waktu pagi harinya. Bagi anak-anak kecil setelah puas bermain biasanya akan sigrah (segera) membereskan peralatan sholatnya beserta Al-Qur’an yang akan dibawa ke surau (tajug, Jawa namanya langgar).
Sebelum pembicaraan berlanjut, maaf sebentar, saya akan bicara tentang surau atau tajug (Sunda), dan langgar (Jawa). Nama tempat sholat, surau, tampaknya mengalami pergeseran nama menjadi musholla. Itu merupakan perkembangan bahasa berkaitan dengan keadaan, di antaranya sejak setelah PKI (Partai Komunis Indonesia) kalah berontak yang kesekian, tahun 1965, nama surau, tajug, atau langgar itu dikenal dengan nama musholla.
Mungkin karena orang-orang PKI beramai-ramai ngeyup (berteduh dan berlindung) ke Islam, bahkan mereka ramai-ramai mendirikan surau, maka terjadi pergeseran bahasa, lebih difasihkan lagi istilah surau itu maka menjadi musholla, dari bahasa Arab. Padahal musholla sendiri dalam bahasa Arab itu artinya tempat sholat ied (hari raya) yaitu tanah lapang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
{ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ
Siapa yang memiliki keluasan lalu dia tidak menyembelih korban maka jangan sampai dia mendekati musholla kami. (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Di dalam lafal mushollana (مُصَلَّانَا ) itu pengertiannya adalah tanah lapang untuk sholat ied (hari raya).
Sedangkan surau sebenarnya juga masjid, hanya bukan masjid jami’ alias bukan tempat sholat Jum’at.
Kembali tentang ngabuburit, di Sunda masa dulu, anak-anak desa tempo dulu pada umumnya selalu bersemangat pergi ke tajug atau surau untuk melaksanakan sholat maghrib berjama’ah, lalu mengaji yang dibimbing oleh ajengan (kiyai) setempat, dan setelah sholat ‘isya berjamaah, mereka pulang dengan antusias tanpa ada pengaruh televisi di otaknya.
Jadi insya Allah isi catatan amalnya adalah baik, sebagai bekal kelak di akherat. Beda dengan sekarang, kemungkinan banyak orang, isi catatan amalnya, bagi yang banyak menghabiskan waktunya untuk nonton televise padahal waktu-waktu tersebut sangat berharga, maka betapa celakanya. Ketika masuk kubur, bekal amalnya hanya serba nonton televise. Apakah itu yang akan diandalkan ketika menghadapi malaikat kubur, serta di akherat kelak?
Awal Mula Penyimpangan Ngabuburit untuk Menunggu Waktu Buka Puasa
Andaikata tidak ada yang memulai mempromosikan istilah ngabuburit, apalagi itu bahasa daerah, mungkin tak ada yang mengenal istilah itu selain orang-orang Sunda (Jawa Barat).
Tetapi beberapa tahun terakhir ini istilah itu seperti sudah lekat di bibir semua warga Indonesia, terutama anak-anak muda perkotaan. Dan istilah itu popular pada saat datangnya bulan Ramadhan (bulan puasa).
Awalnya kenapa ngabuburit itu sekarang jadi popular pada ramadhan?
Ini berkaitan dengan adanya acara infotaimen di televisi swasta. Pada saat -saat Ramadhan beberapa tahun lalu, mereka mewawancarai artis-artis tentang kegiatan si artis pada saat bulan Ramadhan, dan beberapa artis yang diwawancara adalah artis-artis berasal dari Jawa Barat, antara lain adalah ND yang kala itu masih sering muncul di acara infotaimen. Ya namanya artis memang tidak akan jauh kegiatannya hanya seputar wara-wiri, kumpul-kumpul dan senang-senang. Dan ND itu bilang, bahwa ia untuk menunggu datangnya buka puasa itu ngabuburit.
Beberapa artis pun demikian ( bila diwawancara apa kegiatannya saat menunggu buka puasa), dan hal begitu selalu berulang, entah disengaja oleh pihak acara (untuk promosi agar anak-anak muda mengikutinya) atau kebetulan memang setiap artis yang diwawancara itu biasa ngabuburit untuk menunggu saat-saat buka puasa. Wallahu a’lam.
Yang pasti, sekarang ini fenomena ngabuburit pada saat Ramadhan benar-benar sudah memasyarakat, terutama pada anak-anak muda perkotaan. Pada saat sore tiba mereka keluar rumah dengan berkendaraan motor berboncengan dengan pasangannya atau bergerombol, mereka mendatangi tempat-tempat ramai atau jalan-jalan ke mal-mal (dengan pasangannya) atau bermotor ria memenuhi jalan-jalan raya. Dan alasan mereka tak ada lain “ ngabuburit!” menunggu waktu buka puasa!
Koran Republika juga pernah mengupas tentang ngabuburit. Tetapi mungkin dampaknya tidak seperti dari televisi. Masyarakat kita sangat cendrung cepat meniru, terutama anak-anak muda, apa lagi itu datangnya dari artis-artis.. Maka tak heran sewaktu si artis menyiarkan kegiatannya pada saat menunggu buka puasa adalah ngabuburit, baik ke mal-mal atau keliling berkendaraan, nah dicontohlah sekarang oleh masyarakat muslim, terutama anak-anak muda. Manfaat dan adab puasa sudah dirusak!
Mungkin mereka yang mempromosikan istilah ngabuburit saat puasa itu tak pernah merasa kegiatannya itu akan ditiru orang banyak dan tak menyadari kalau perbuatannya itu jadi mengandung dosa, kerena menyia-nyiakan waktu pada bulan yang milia (Ramadhan), atau lebih jelek lagi yang mengikuti ngabuburit itu anak muda yang kemudian berduaan dengan lain jenis (pasangannya) berkendaraan motor, (padahal Ramadhan bulan yang sangat mulia, tapi digunakan bermaksiat tanpa merasa berdosa) dan itu awalnya promosi dari mereka yang tak mengerti ajaran Islam, atau bahkan kurang menghiraukannya.
Dampak Ngabuburit Jika Dibiarkan
Andaikata fenomena ini (menunggu buka puasa dengan ngabuburit) didiamkan saja, boleh jadi generasi berikutnya atau generasi yang akan datang merasa ngabuburit itu bagian dari manfaat puasa atau paling tidak, menunggu buka puasa (ngabuburit puasa) tidak berdosa berduaan jalan-jalan menunggu buka puasa, menghabiskan waktu dengan sia-sia (atau malah melakukan dosa tanpa terasa) itu tidak mengapa. Sesungguhnya Islam tak pernah mengajarkan menunggu buka puasa dengan bersenang-senang, berduaan, jalan-jalan, menyia-nyiakan waktu!
Ada hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
{ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ } رَوَاهُ أحمد (2/443 ، رقم 9717) ، والبخارى (5/2251 ، رقم 5710) ، وأبو داود (2/307 ، رقم 2362) ، والترمذى (3/87 ، رقم 707) وقال : حسن صحيح . وابن ماجه (1/539 ، رقم 1689) ، وابن حبان (8/256 ، رقم 3480)
Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum”. (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya).
Dalam hadist lain dikatakan :
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَش
”Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (HR. Ahmad, hadist hasan shahih).
Tidak bisa dianggap sepele fenomena ini. Buktinya sebelum tersiar (sengaja dipromosikan) tentang ngabuburit pada bulan puasa, masyarakat muslim yang melakukan ibadah puasa pada umumnya, juga anak-anak muda kebanyakan hanya berdiam diri di dalam rumah masing-masing. Ada yang mendengarkan ceramah agama, ada yang berzikir, membaca Al-Qur’an, ada juga yang sibuk membagi panganan (sedekah) untuk buka puasa kepada tetangga atau kerabat dekat.
Sekarang fenomena ngabuburit ini sangat dinikmati oleh masyarakat muslim, (semua gara-gara digembar-gemborkan di media televisi) terutama anak-anak muda yang pemahaman tentang manfaat puasa Ramadhan, tentang adab puasa ini sangat minim. Mereka asyik berduaan berkendaraan, asyik tertawa-tawa bersama teman / kongkou-kongkou, ada yang asyik berbelanja.
Dan kecendrungan ngabuburit ini juga lebih terbuka lagi dengan adanya fasilitas mal-mal dan kendaraan bermotor. Bukankah manfaat puasa jadi hilang, boleh jadi puasanya hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja.
Wajibnya puasa di bulan Ramadhan telah Allah tetapkan di dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(183)
”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183).
Sebagai orang Islam, seharusnya sangat mengetahui juga rukun puasa, manfaat puasa, keutamaan puasa, yang membatalkan puasa sampai adab berpuasa.
Adapun adab puasa sebagai berikut
Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu-, merahmati kita semua.
Bahwasanya puasa tidak sempurna kecuali dengan merealisasikan enam perkara :
Pertama: Menundukkan pandangan serta menahannya dari pandangan-pandangan liar yang tercela dan dibenci.
Kedua : Menjaga lisan dari berbicara tak karuan, menggunjing (ghibah), mengadu domba (namimah). Dan dusta.
Ketiga : Menjaga pendengaran dari mendengarkan setiap yang haram atau yang Tercela.
Keempat : Menjaga anggauta tubuh lainnya dari perbuatan dosa.
Kelima : Hendaknya tidak memperbanyak makan.
Keenam : Setelah berbuka, hendaknya hatinya antara takut dan harap. Sebab tidak tahu apakah puasanya diterima, sehingga ia termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah, ataukah ditolak sehinga ia termasuk orang-orang yang dimurkai. Hal yang sam a hendaknya ia lakukan pada setiap selesai Melakukan ibadah. ( Dikutip dari kitab : Risalah Ramadhan. Hal. 115-116 Karya : Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al- Jarullah. Al. Sofwa, Jakarta).
Sesungguhnya bagi setiap muslim itu wajib saling mengingatkan. Orang tua wajib mengingatkan anak-anaknya, suami wajib mengingatkan istrinya. Mari kitapun mengingatkan bahwa ngabuburit itu tidak bermanfaat bagi puasa kita. Semoga Allah selalu mengingatkan kita semua. Amin
Mereka anak-anak muda akan keluar rumah masing-masing setelah waktu ‘ashar, lalu secara bergerombol atau perorangan pergi ke alun-alun atau ke tempat keramaian atau juga sekedar jalan-jalan di sekitar jalan alun-alun. Bagi para ibu mungkin hanya sekedar keluar rumah dan bertandang di halaman rumah tetangga. Nah kebiasaan inilah yang disebut ngabuburit.
Kalau di pelosok – pelosok perkampungan Sunda waktu lalu, menunggu datangnya waktu magrib, bagi yang sudah berkeluarga, mereka mengisi waktu dengan menganyam tikar (yang bahan dasarnya dari daun pandan yang telah diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi tali putih yang siap dijadikan tikar pandan) di halaman rumah masing-masing sambil bersenda gurau atau ngobrol tentang kejadian apa yang mereka alami di sawah waktu pagi harinya. Bagi anak-anak kecil setelah puas bermain biasanya akan sigrah (segera) membereskan peralatan sholatnya beserta Al-Qur’an yang akan dibawa ke surau (tajug, Jawa namanya langgar).
Sebelum pembicaraan berlanjut, maaf sebentar, saya akan bicara tentang surau atau tajug (Sunda), dan langgar (Jawa). Nama tempat sholat, surau, tampaknya mengalami pergeseran nama menjadi musholla. Itu merupakan perkembangan bahasa berkaitan dengan keadaan, di antaranya sejak setelah PKI (Partai Komunis Indonesia) kalah berontak yang kesekian, tahun 1965, nama surau, tajug, atau langgar itu dikenal dengan nama musholla.
Mungkin karena orang-orang PKI beramai-ramai ngeyup (berteduh dan berlindung) ke Islam, bahkan mereka ramai-ramai mendirikan surau, maka terjadi pergeseran bahasa, lebih difasihkan lagi istilah surau itu maka menjadi musholla, dari bahasa Arab. Padahal musholla sendiri dalam bahasa Arab itu artinya tempat sholat ied (hari raya) yaitu tanah lapang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
{ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ
Siapa yang memiliki keluasan lalu dia tidak menyembelih korban maka jangan sampai dia mendekati musholla kami. (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Di dalam lafal mushollana (مُصَلَّانَا ) itu pengertiannya adalah tanah lapang untuk sholat ied (hari raya).
Sedangkan surau sebenarnya juga masjid, hanya bukan masjid jami’ alias bukan tempat sholat Jum’at.
Kembali tentang ngabuburit, di Sunda masa dulu, anak-anak desa tempo dulu pada umumnya selalu bersemangat pergi ke tajug atau surau untuk melaksanakan sholat maghrib berjama’ah, lalu mengaji yang dibimbing oleh ajengan (kiyai) setempat, dan setelah sholat ‘isya berjamaah, mereka pulang dengan antusias tanpa ada pengaruh televisi di otaknya.
Jadi insya Allah isi catatan amalnya adalah baik, sebagai bekal kelak di akherat. Beda dengan sekarang, kemungkinan banyak orang, isi catatan amalnya, bagi yang banyak menghabiskan waktunya untuk nonton televise padahal waktu-waktu tersebut sangat berharga, maka betapa celakanya. Ketika masuk kubur, bekal amalnya hanya serba nonton televise. Apakah itu yang akan diandalkan ketika menghadapi malaikat kubur, serta di akherat kelak?
Awal Mula Penyimpangan Ngabuburit untuk Menunggu Waktu Buka Puasa
Andaikata tidak ada yang memulai mempromosikan istilah ngabuburit, apalagi itu bahasa daerah, mungkin tak ada yang mengenal istilah itu selain orang-orang Sunda (Jawa Barat).
Tetapi beberapa tahun terakhir ini istilah itu seperti sudah lekat di bibir semua warga Indonesia, terutama anak-anak muda perkotaan. Dan istilah itu popular pada saat datangnya bulan Ramadhan (bulan puasa).
Awalnya kenapa ngabuburit itu sekarang jadi popular pada ramadhan?
Ini berkaitan dengan adanya acara infotaimen di televisi swasta. Pada saat -saat Ramadhan beberapa tahun lalu, mereka mewawancarai artis-artis tentang kegiatan si artis pada saat bulan Ramadhan, dan beberapa artis yang diwawancara adalah artis-artis berasal dari Jawa Barat, antara lain adalah ND yang kala itu masih sering muncul di acara infotaimen. Ya namanya artis memang tidak akan jauh kegiatannya hanya seputar wara-wiri, kumpul-kumpul dan senang-senang. Dan ND itu bilang, bahwa ia untuk menunggu datangnya buka puasa itu ngabuburit.
Beberapa artis pun demikian ( bila diwawancara apa kegiatannya saat menunggu buka puasa), dan hal begitu selalu berulang, entah disengaja oleh pihak acara (untuk promosi agar anak-anak muda mengikutinya) atau kebetulan memang setiap artis yang diwawancara itu biasa ngabuburit untuk menunggu saat-saat buka puasa. Wallahu a’lam.
Yang pasti, sekarang ini fenomena ngabuburit pada saat Ramadhan benar-benar sudah memasyarakat, terutama pada anak-anak muda perkotaan. Pada saat sore tiba mereka keluar rumah dengan berkendaraan motor berboncengan dengan pasangannya atau bergerombol, mereka mendatangi tempat-tempat ramai atau jalan-jalan ke mal-mal (dengan pasangannya) atau bermotor ria memenuhi jalan-jalan raya. Dan alasan mereka tak ada lain “ ngabuburit!” menunggu waktu buka puasa!
Koran Republika juga pernah mengupas tentang ngabuburit. Tetapi mungkin dampaknya tidak seperti dari televisi. Masyarakat kita sangat cendrung cepat meniru, terutama anak-anak muda, apa lagi itu datangnya dari artis-artis.. Maka tak heran sewaktu si artis menyiarkan kegiatannya pada saat menunggu buka puasa adalah ngabuburit, baik ke mal-mal atau keliling berkendaraan, nah dicontohlah sekarang oleh masyarakat muslim, terutama anak-anak muda. Manfaat dan adab puasa sudah dirusak!
Mungkin mereka yang mempromosikan istilah ngabuburit saat puasa itu tak pernah merasa kegiatannya itu akan ditiru orang banyak dan tak menyadari kalau perbuatannya itu jadi mengandung dosa, kerena menyia-nyiakan waktu pada bulan yang milia (Ramadhan), atau lebih jelek lagi yang mengikuti ngabuburit itu anak muda yang kemudian berduaan dengan lain jenis (pasangannya) berkendaraan motor, (padahal Ramadhan bulan yang sangat mulia, tapi digunakan bermaksiat tanpa merasa berdosa) dan itu awalnya promosi dari mereka yang tak mengerti ajaran Islam, atau bahkan kurang menghiraukannya.
Dampak Ngabuburit Jika Dibiarkan
Andaikata fenomena ini (menunggu buka puasa dengan ngabuburit) didiamkan saja, boleh jadi generasi berikutnya atau generasi yang akan datang merasa ngabuburit itu bagian dari manfaat puasa atau paling tidak, menunggu buka puasa (ngabuburit puasa) tidak berdosa berduaan jalan-jalan menunggu buka puasa, menghabiskan waktu dengan sia-sia (atau malah melakukan dosa tanpa terasa) itu tidak mengapa. Sesungguhnya Islam tak pernah mengajarkan menunggu buka puasa dengan bersenang-senang, berduaan, jalan-jalan, menyia-nyiakan waktu!
Ada hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
{ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ } رَوَاهُ أحمد (2/443 ، رقم 9717) ، والبخارى (5/2251 ، رقم 5710) ، وأبو داود (2/307 ، رقم 2362) ، والترمذى (3/87 ، رقم 707) وقال : حسن صحيح . وابن ماجه (1/539 ، رقم 1689) ، وابن حبان (8/256 ، رقم 3480)
Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum”. (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya).
Dalam hadist lain dikatakan :
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَش
”Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (HR. Ahmad, hadist hasan shahih).
Tidak bisa dianggap sepele fenomena ini. Buktinya sebelum tersiar (sengaja dipromosikan) tentang ngabuburit pada bulan puasa, masyarakat muslim yang melakukan ibadah puasa pada umumnya, juga anak-anak muda kebanyakan hanya berdiam diri di dalam rumah masing-masing. Ada yang mendengarkan ceramah agama, ada yang berzikir, membaca Al-Qur’an, ada juga yang sibuk membagi panganan (sedekah) untuk buka puasa kepada tetangga atau kerabat dekat.
Sekarang fenomena ngabuburit ini sangat dinikmati oleh masyarakat muslim, (semua gara-gara digembar-gemborkan di media televisi) terutama anak-anak muda yang pemahaman tentang manfaat puasa Ramadhan, tentang adab puasa ini sangat minim. Mereka asyik berduaan berkendaraan, asyik tertawa-tawa bersama teman / kongkou-kongkou, ada yang asyik berbelanja.
Dan kecendrungan ngabuburit ini juga lebih terbuka lagi dengan adanya fasilitas mal-mal dan kendaraan bermotor. Bukankah manfaat puasa jadi hilang, boleh jadi puasanya hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja.
Wajibnya puasa di bulan Ramadhan telah Allah tetapkan di dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(183)
”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183).
Sebagai orang Islam, seharusnya sangat mengetahui juga rukun puasa, manfaat puasa, keutamaan puasa, yang membatalkan puasa sampai adab berpuasa.
Adapun adab puasa sebagai berikut
Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu-, merahmati kita semua.
Bahwasanya puasa tidak sempurna kecuali dengan merealisasikan enam perkara :
Pertama: Menundukkan pandangan serta menahannya dari pandangan-pandangan liar yang tercela dan dibenci.
Kedua : Menjaga lisan dari berbicara tak karuan, menggunjing (ghibah), mengadu domba (namimah). Dan dusta.
Ketiga : Menjaga pendengaran dari mendengarkan setiap yang haram atau yang Tercela.
Keempat : Menjaga anggauta tubuh lainnya dari perbuatan dosa.
Kelima : Hendaknya tidak memperbanyak makan.
Keenam : Setelah berbuka, hendaknya hatinya antara takut dan harap. Sebab tidak tahu apakah puasanya diterima, sehingga ia termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah, ataukah ditolak sehinga ia termasuk orang-orang yang dimurkai. Hal yang sam a hendaknya ia lakukan pada setiap selesai Melakukan ibadah. ( Dikutip dari kitab : Risalah Ramadhan. Hal. 115-116 Karya : Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al- Jarullah. Al. Sofwa, Jakarta).
Sesungguhnya bagi setiap muslim itu wajib saling mengingatkan. Orang tua wajib mengingatkan anak-anaknya, suami wajib mengingatkan istrinya. Mari kitapun mengingatkan bahwa ngabuburit itu tidak bermanfaat bagi puasa kita. Semoga Allah selalu mengingatkan kita semua. Amin
posted from Bloggeroid
Minggu, 31 Mei 2015
Malaikat berjubah hitam.!!!
Hari berganti dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, dari bulan ke tahun, begitu seterusnya bumi berputar, dan ajaibnya bumi yang berputar, usia manusia yang berkurang, kalau dilihat dari atas waktu yang ditentukan dan bertambah kalau dilihat dari titik nol, saat kelahiran manusia.
Manusia menyangka kalau hari yang dilalaui sama saja, padahal setiap waktu yang dilaluinyanya adalah beda, dalam hitungan detik yang berlalu, tak seorang manusiapun yang mampu mengembalikan waktu yang telah dilaluinya. Jadi bila dilihat dari sisi waktu ini, setiap manusia, siapapun orangnya selalu dalam keadaan baru, selalu lahir manusia baru, dari orang yang sama!
Aneh memang kedengarannya, bagaimana bisa manusia yang sama setiap saat lahir? Oke , coba teliti, manusia sebenarnya adalah selalu dalam keadaan baru, karena dalam hitungan detik, kalau sudah ajal menjemput, manusia akan mati! Jadi kalau seorang manusia sampai saat artikel ini ditulis dan kemudian dibaca lalu tersimpan di dunia maya, maka bersukurlah, itu berarti yang menulis dan yang membacanya masih hidup! Padahal bisa saja yang menulis dan yang membaca pada saat yang sama, bila memang ajalnya sudah tiba, akan mati dalam waktu bersamaan, di tempat yang berbeda.
Hari berlalu demikian cepat, dari kelahiran menuju kematian, dari masa anak-anak,muda, dewasa, tua dan maut sedang menanti. Tak jauh-jauh, tak usah belari mengghindar dari maut, tak usah menjemput kedatangan maut, dihindari dan dijemput sama aja bagi sang maut.
Dia datang bukan atas permintaanmu, dia belum hadir bukan atas kemauanmu, satang atau tidaknya sang maut ada dalam catatanNya, ada dalam genggamanNya, dan bila saatnya tiba Dia datang tanpa kau pinta, Dia hadir tanpa kau sadari, dan tiba-tiba kau mati!
Lalu kuburan ada di hadapanmu, jasadmu akan berada di dalamnya, jasadmu akan menjadi santapan cacing-cacing tanah atau belatung-belatung yang “berpesta” memakan dagingmu, hingga tak bersisa sedikitpun, lalu tulang belulangmu hancur satu demi satu dan kemudian lenyap bersama tanah.
Kuburan menjadi tempatmu bersinggah sementara, sebelum kiamat tiba. Akankah kau dapat nikmat kubur atau azab kubur? Dunialah tempat persemainnya, dunialah ladang amalnya, dunialah tempat menabung segala amal perbuatanmu.
Jika tidak, azab kubur akan kau dapatkan tanpa kau kehendaki, azab kubur akan menghancurleburkan tubuhmu, azab kubur akan menjadi tempat awal penyiksaan yang teramat pedih sebelum disiksa di neraka nanti, sudahkah kau siapakan dirimu menghadapi kuburan?
Di Kuburan kau akan sendirian, jika tak punya amal, di Kuburan Kau akan di azab, jika tak beriman dan tak beramal sholeh. Di Kuburan kau akan disiksa, jika hidupmu penuh dengan kemaksiatan. Jangan ceritakan neraka, di kuburan sudah cukup buat peringatan, bagi yang mau mengambil peringatan dan pelajaran.
Neraka bagi pembuat maksiat bukan apa-apa, neraka bagi orang kapir bukan sesuatu yang menakutkan,
neraka bagi penggelimang dosa bukan sesuatu yang perlu ditakuti, apa itu neraka? Bagi mereka neraka hanya cerita-cerita kosong , mati, selesai. Itu keyakinan orang-orang kapir!
Bagi yang beriman, jangankan neraka, siksa kubur sudah membuatnya ketakutan luar biasa. Apa lagi azab neraka, Ya Allah lindungi hamba dari azab kubur dan azab neraka, jangankan api neraka, api di duniapun sudah dapat mengancur leburkan daging dan tulang belulang hamba. Jangankan azab di neraka, azab kubur saja sudah menghancurkan tubuh manusia. Jangankan azab kubur, kebakaran di dunia saja sudah menghancurkan kehidupan manusia.
Maka betapapun panjang jalan yang kau tempuh, betapapun jauh perjalanan yang kau lalui, betapapun ilmu yang kau miliki, betapapun harta yang kau cari sebanyak-banyaknya, betapapun persahabatan yang kau bina sebaik-baiknya, betapapun persaudaraan yang kau jaga keutuhannya, pada akhirnya semuanya kamu tinggalkan.
Pada akhirnya semua fana, pada akahirnya semuanya nol, pada akhirnya semuanya tiada, Pada
akhirnya tubuhmu yang kau jaga juga akan lenyap, pada akhirnya kematianlah kenyataan itu.
Dengan izinNya satu-satunya kepastian yang tak dapat kau elakan yaitu kematian! Dan kematian datang tiba-tiba, begitu saja, baru saja bercengkrama dengan para sahabat, baru saja bersenda gurau dengan keluarga, baru saja bercanda dengan sanak pamili, tiba-tiba maut datang begitu saja.
Jadi, sejauh-jauhnya kau berjalan, yang ada dihadapanmu adalah kefanaan, kematian, kenolan, kelenyapan, ketiadaan! Jadi, sejauh-jauhnya kamu merantau, ke luar dari negerimu, ke ujung dunia sekalipun, di hadapan Allah SWT. Tak seincipun kamu bergerak, kemanapun kamu, berjalan, berlari atau terbang sekalipun, kau tetap di dalam Tuhan, karena Dialah awal dan akhir parjalanan hidupmu, karena dari Dialah dan ke Dialah tujuan hidupmu.
Dan ini ada bait-bait tentang kematian seorang laki laki .kematian tidak akan meminta izin untuk datang ..
Musim semi telah tiba dan saljupun hilang entah kemana/Hujan turun lebat sekali kemarin namun hanya sesaat/Matahari masih terkadang muncul/Dengan senyum malu-malu menyapa bumi.
Dari ujung sana pada sebuah titik di bumi/Angin membawa berita ke segala persada yang menghentak/Seorang hambaNya yang penuh warna/Tiba-tiba dipanggil menghadapNya di malam mulia.
Tak terduga/Tak disangka/Dalam usia yang kata orang hidup dimulai/Namun yang terjadi hidup itu diakhiri/Saat malam kelam di sebuah jalan/Pada suasana demikian malaikat berjubah hitam menjeputnya.
Saat roh pamit meninggalkan sang raga/Itu memang rahasiaNya/Tak ada mengetahui kecuali Dia/Tak ada yang bisa mencegah kedatangan/Sang malaikat berjubah hitam/Semua berjalan atas kehendakNya/Datang begitu saja/Dan kapan saja maunya.
Di musim semi saat hijau dedaunan mulai tersenyum/Saat itulah datang panggilan yang tak bersuara/Menjemputnya saat awan menutupi kegelapan malam/Derai air matapun ikut turun membasahi bumi/Menghantar kepergiannya/Menghantar kepulangannya menuju rumah terakhir.
Engkau sudah berbuat/Dan itu telah kau lakukan/Meninggalkan suaramu/Meninggalkan pesan-pesanmu/Meninggalkan gayamu yang membumi/Menarik hati-hati yang luka dan terobati.
Selamat jalan wahai engkau lelaki yang terpanggil/Selamat jalan wahai engkau lelaki yang penuh senyum/Selamat jalan wahai engkau lelaki yang dipilihNya/Selamat jalan wahai engkau lelaki yang berjalan dalam panji-panjiNya/Selamat jalan wahai engkau lelaki yang menyebarkan risalahNya/Doa kami mengiringi perjalanan terakhirmu/Menuju keabadian
Semoga mengingatkan kita akan kematian ...!!
Manusia menyangka kalau hari yang dilalaui sama saja, padahal setiap waktu yang dilaluinyanya adalah beda, dalam hitungan detik yang berlalu, tak seorang manusiapun yang mampu mengembalikan waktu yang telah dilaluinya. Jadi bila dilihat dari sisi waktu ini, setiap manusia, siapapun orangnya selalu dalam keadaan baru, selalu lahir manusia baru, dari orang yang sama!
Aneh memang kedengarannya, bagaimana bisa manusia yang sama setiap saat lahir? Oke , coba teliti, manusia sebenarnya adalah selalu dalam keadaan baru, karena dalam hitungan detik, kalau sudah ajal menjemput, manusia akan mati! Jadi kalau seorang manusia sampai saat artikel ini ditulis dan kemudian dibaca lalu tersimpan di dunia maya, maka bersukurlah, itu berarti yang menulis dan yang membacanya masih hidup! Padahal bisa saja yang menulis dan yang membaca pada saat yang sama, bila memang ajalnya sudah tiba, akan mati dalam waktu bersamaan, di tempat yang berbeda.
Hari berlalu demikian cepat, dari kelahiran menuju kematian, dari masa anak-anak,muda, dewasa, tua dan maut sedang menanti. Tak jauh-jauh, tak usah belari mengghindar dari maut, tak usah menjemput kedatangan maut, dihindari dan dijemput sama aja bagi sang maut.
Dia datang bukan atas permintaanmu, dia belum hadir bukan atas kemauanmu, satang atau tidaknya sang maut ada dalam catatanNya, ada dalam genggamanNya, dan bila saatnya tiba Dia datang tanpa kau pinta, Dia hadir tanpa kau sadari, dan tiba-tiba kau mati!
Lalu kuburan ada di hadapanmu, jasadmu akan berada di dalamnya, jasadmu akan menjadi santapan cacing-cacing tanah atau belatung-belatung yang “berpesta” memakan dagingmu, hingga tak bersisa sedikitpun, lalu tulang belulangmu hancur satu demi satu dan kemudian lenyap bersama tanah.
Kuburan menjadi tempatmu bersinggah sementara, sebelum kiamat tiba. Akankah kau dapat nikmat kubur atau azab kubur? Dunialah tempat persemainnya, dunialah ladang amalnya, dunialah tempat menabung segala amal perbuatanmu.
Jika tidak, azab kubur akan kau dapatkan tanpa kau kehendaki, azab kubur akan menghancurleburkan tubuhmu, azab kubur akan menjadi tempat awal penyiksaan yang teramat pedih sebelum disiksa di neraka nanti, sudahkah kau siapakan dirimu menghadapi kuburan?
Di Kuburan kau akan sendirian, jika tak punya amal, di Kuburan Kau akan di azab, jika tak beriman dan tak beramal sholeh. Di Kuburan kau akan disiksa, jika hidupmu penuh dengan kemaksiatan. Jangan ceritakan neraka, di kuburan sudah cukup buat peringatan, bagi yang mau mengambil peringatan dan pelajaran.
Neraka bagi pembuat maksiat bukan apa-apa, neraka bagi orang kapir bukan sesuatu yang menakutkan,
neraka bagi penggelimang dosa bukan sesuatu yang perlu ditakuti, apa itu neraka? Bagi mereka neraka hanya cerita-cerita kosong , mati, selesai. Itu keyakinan orang-orang kapir!
Bagi yang beriman, jangankan neraka, siksa kubur sudah membuatnya ketakutan luar biasa. Apa lagi azab neraka, Ya Allah lindungi hamba dari azab kubur dan azab neraka, jangankan api neraka, api di duniapun sudah dapat mengancur leburkan daging dan tulang belulang hamba. Jangankan azab di neraka, azab kubur saja sudah menghancurkan tubuh manusia. Jangankan azab kubur, kebakaran di dunia saja sudah menghancurkan kehidupan manusia.
Maka betapapun panjang jalan yang kau tempuh, betapapun jauh perjalanan yang kau lalui, betapapun ilmu yang kau miliki, betapapun harta yang kau cari sebanyak-banyaknya, betapapun persahabatan yang kau bina sebaik-baiknya, betapapun persaudaraan yang kau jaga keutuhannya, pada akhirnya semuanya kamu tinggalkan.
Pada akhirnya semua fana, pada akahirnya semuanya nol, pada akhirnya semuanya tiada, Pada
akhirnya tubuhmu yang kau jaga juga akan lenyap, pada akhirnya kematianlah kenyataan itu.
Dengan izinNya satu-satunya kepastian yang tak dapat kau elakan yaitu kematian! Dan kematian datang tiba-tiba, begitu saja, baru saja bercengkrama dengan para sahabat, baru saja bersenda gurau dengan keluarga, baru saja bercanda dengan sanak pamili, tiba-tiba maut datang begitu saja.
Jadi, sejauh-jauhnya kau berjalan, yang ada dihadapanmu adalah kefanaan, kematian, kenolan, kelenyapan, ketiadaan! Jadi, sejauh-jauhnya kamu merantau, ke luar dari negerimu, ke ujung dunia sekalipun, di hadapan Allah SWT. Tak seincipun kamu bergerak, kemanapun kamu, berjalan, berlari atau terbang sekalipun, kau tetap di dalam Tuhan, karena Dialah awal dan akhir parjalanan hidupmu, karena dari Dialah dan ke Dialah tujuan hidupmu.
Dan ini ada bait-bait tentang kematian seorang laki laki .kematian tidak akan meminta izin untuk datang ..
Musim semi telah tiba dan saljupun hilang entah kemana/Hujan turun lebat sekali kemarin namun hanya sesaat/Matahari masih terkadang muncul/Dengan senyum malu-malu menyapa bumi.
Dari ujung sana pada sebuah titik di bumi/Angin membawa berita ke segala persada yang menghentak/Seorang hambaNya yang penuh warna/Tiba-tiba dipanggil menghadapNya di malam mulia.
Tak terduga/Tak disangka/Dalam usia yang kata orang hidup dimulai/Namun yang terjadi hidup itu diakhiri/Saat malam kelam di sebuah jalan/Pada suasana demikian malaikat berjubah hitam menjeputnya.
Saat roh pamit meninggalkan sang raga/Itu memang rahasiaNya/Tak ada mengetahui kecuali Dia/Tak ada yang bisa mencegah kedatangan/Sang malaikat berjubah hitam/Semua berjalan atas kehendakNya/Datang begitu saja/Dan kapan saja maunya.
Di musim semi saat hijau dedaunan mulai tersenyum/Saat itulah datang panggilan yang tak bersuara/Menjemputnya saat awan menutupi kegelapan malam/Derai air matapun ikut turun membasahi bumi/Menghantar kepergiannya/Menghantar kepulangannya menuju rumah terakhir.
Engkau sudah berbuat/Dan itu telah kau lakukan/Meninggalkan suaramu/Meninggalkan pesan-pesanmu/Meninggalkan gayamu yang membumi/Menarik hati-hati yang luka dan terobati.
Selamat jalan wahai engkau lelaki yang terpanggil/Selamat jalan wahai engkau lelaki yang penuh senyum/Selamat jalan wahai engkau lelaki yang dipilihNya/Selamat jalan wahai engkau lelaki yang berjalan dalam panji-panjiNya/Selamat jalan wahai engkau lelaki yang menyebarkan risalahNya/Doa kami mengiringi perjalanan terakhirmu/Menuju keabadian
Semoga mengingatkan kita akan kematian ...!!
posted from Bloggeroid
Langganan:
Postingan (Atom)
