Selasa, 07 Juli 2015

di kala kalimat tauhid bergema


Pukul lima sore sudah lama berlalu. Maghrib memang masih belum waktunya. Sang artis terkenal itu bergegas menunaikan sholat Ashar. Ada perasaan bersalah yang susah payah ditepisnya. Tapi mau bagaimana lagi? Jadualnya memang padat.

Usai sholat, dia berniat berdoa. Bukan karena ada permohonan khusus, melainkan karena kebiasaan atau refeks saja. Namun ada SMS masuk ke telepon selulernya. Dari managernya. Ada order gede, dan dia diminta segera menemui si Bos. Sekarang, karena tidak ada waktu lagi, dan si Bos sangat sibuk. Sang artis dengan cepat memutuskan untuk membatalkan doanya, menuju kendaraan, dan memacunya. Ia tahu maghrib sudah menjelang. Namun ia memutuskan untuk ‘lihat bagaimana nantilah!’

Di perjalanan, adzan berkumandang. Nuraninya pun menyapa lembut, namun gelisah. Begitu tinggikah penghargaannya kepada si Bos? Sebegitu tingginya sehingga mengalahkan penghargaannya kepada Sang Pemberi Rizki? Demikian gugat sang nurani. Perasaan bersalah mengaliri seluruh jiwanya. Ia tahu, ia harus berubah. Ia juga tahu, ia tidak boleh menunda. Akhirnya ia putuskan, jika bertemu Masjid terdekat ia akan berhenti. Bagaimana janji bertemu si Bos? Biarlah Allah yang mengurus rizkinya. Demikian pikir Sang Artis.

Sang Artis menuturkan pengalaman ini kepada saya, yang mendengarkan dengan ta’zim. Sebenarnya Saya jarang bertemu artis manapun, apalagi artis papan atas. Di sisi lain, Saya sendiri memang tidak pernah berkeinginan untuk bertemu artis manapun.

Namun artis yang satu ini memang berbeda. Ia memiliki semangat untuk membantu syiar keIslaman. Walaupun belum sepenuhnya lepas dari kehidupan glamour, namun keinginannya untuk berbuat sesuatu terhadap Islam memancing simpati Saya.

Akhirnya mereka bertemu. Sang artis bersedia memberikan sedikit tausyiah untuk remaja, dengan bayaran yang nyaris gratis untuk ukuran seorang artis. Dan Sang artis pun menceritakan salah satu pengalaman rohaninya, sebagaimana dikisahkan di awal tulisan ini.

* * * * *

“Sebenarnya kisah Artis tadi adalah salah satu pelajaran tentang ketauhidan”, demikian kata salah seorang Ustadz di Masjid tempat saya tinggal.

“Tauhid? Apakah benar sedalam itu, Ustadz?” tanya saya keheranan.

“Ya, cerita tadi memang kecil dan sederhana, namun hakikatnya sungguh dalam. Cerita tadi adalah salah satu fragment tentang ketauhidan. Betapa tidak. Teori tauhid memang mengajarkan kita untuk meyakini bahwa hanya Allah Yang Maha Pemberi Rizki. Namun implementasi tauhid kita sering kali jauh dari itu.

“Kita masih lebih sering ‘memohon’ kepada atasan atau manusia-manusia lain yang kita anggap dapat mengalirkan rizki kepada kita. Kita juga lebih takut kepada mereka. Juga lebih berharap. Di mata kita, mereka sangat berwibawa dan sangat patut dihormati.

“Untuk itu, kadang-kadang kita rela mengorbankan hal-hal yang sebenarnya prinsip. Menggeser-geser, bahkan meninggalkan sholat, hanya karena harus mengejar deadline tugas yang diberikan oleh si Bos, adalah contoh sederhana namun sering kita temui sehari-hari”, demikian urai Sang Ustadz.

“Gejala lainnya adalah kita jadi sering malas berdoa, karena rasanya ‘kurang konkret’. Jauh lebih konkret bekerja dan ‘memohon’ kepada orang-orang yang ‘memberi’ rizki kepada kita.

“Sholat kita pun jadi kering. Kita tidak sungguh-sungguh merasakan kehadiran Allah di hadapan kita. Karena sebelum sholat kita tidak mempersiapkan jiwa untuk memohon dan meminta. Kita tidak menyiapkan proposal apapun ketika menghadap kepadaNya. Kenapa? Karena kita memang tidak sungguh-sungguh merasa menghadap kepadaNya.

“Bandingkan ketika kita membuat proposal fund raising atau ih kuat dari pada kepada Allah. ” Tandas Sang Ustadz.

Saya dan beberapa jama’ah lainnya manggut-manggut.

“Tapi bukankah Islam mengajarkan kita untuk bekerja profesional dan sungguh-sungguh?” Salah seorang jamaah mencoba mengklarifikasi.

“Betul sekali. Profesional berarti bekerja sesuai standar dan etika profesi yang bersangkutan. Jika profesinya dokter, bekerjalah sesuai standar dan etika kedokteran. Demikian pula arsitek, teknisi, IT, guru, bahkan mungkin da’i. Dan setahu saya, tak satu profesi pun yang mengajarkan kecurangan dan ketidaketisan”, demikian penjelasan Sang Ustadz.

“Kadang-kadang, saya sengaja menunda waktu sholat, karena pekerjaan belum selesai. Saya merasa lebih profesional jika pekerjaan sudah selesai, baru mengerjakan sholat”, orang tadi masih mencoba menjelaskan argumentasinya.

Sang Ustadz tersenyum. Kemudian menjawab dengan tenang, “Sebenarnya memang tergantung profesinya. Kalau profesi Anda adalah seorang dokter, apalagi dokter bedah, memang tidak bijaksana meninggalkan pasien dengan luka menganga. Walaupun sedapat mungkin kita menjadualkan pembedahan dengan perkiraan tidak melampaui waktu sholat. Namun terkadang hal itu memang sulit dilakukan.

“Ada pula profesi pemadam kebakaran, juga polisi yang sedang dalam operasi menangkap pelaku tindak kriminal. Namun itu semua adalah profesi khusus, sehingga memang perlu perlakuan khusus. Sedangkan yang saya maksud dalam penjelasan di atas adalah profesi yang umum, yaitu orang-orang dengan jadual kerja yang teratur. Jam masuk kantornya jelas, jam istirahatnya pasti, begitu pula jam pulangnya. ”

“Ustadz, adakah contoh lain selain menunda-nunda sholat?” Tanya jama’ah yang lain.

“Ada. Misalnya, enggan membayar zakat, apalagi infaq. Kita tahu, zakat itu sudah jelas ukurannya. Sedangkan infaq itu bebas besarnya. Nah, karena begitu takutnya kita akan kekurangan rizki, kita malas mengeluarkan zakat dan infaq. Tanda bahwa kita malas adalah kita ketika kita tidak menyediakan anggaran khusus atau rutin untuk kedua pos itu.

“Kita tidak begitu yakin dengan janji Allah, bahwa DIA akan mencukupi seluruh kebutuhan kita. Kita takut miskin karena berinfaq.

“Jadi, semuanya kembali berakar kepada ketauhidan”, jelas Sang Ustadz.

“Nah, mulai sekarang, klo ada calling dari alloh swt .segeralah dirikan' ujar ustadz sambil tersenyum

Fenomena bulan puasa di negara indonesia

Sebuah fenomena sangat luar biasa ibadah puasa di bulan Ramadhan di Indonesia. Ini belum ada yang menyamai semaraknya, dibanding dengan kegiatan apapun.

Secara visual, bukan hanya kegiatan shalat tarawih di masjid dan mushola, tapi acara 'berbuka puasa bersama' (bukber), sangat fenomenal. Puasa seperti menjadi sebuah 'fashion' yang tidak pernah ada padanannya.

Di masjid dan mushola di setiap kampung, selalu melakukan acara buka puasa bersama di bulan Ramadhan, mulai makanan yang sangat sederhana, sampai dengan menu makanan yang sangat enak, terutama di masjid dan mushola di komplek-komplek perumahan.

Namun, sekarang yang menjadi fenomena dan model baru di kalangan masyaeakat 'urban' perkotaan, menjelang magrib, saat berbuka puasa, begitu sangat luar biasa, aktifitas berbuka puasa di bulan Ramadhan ini.

Di rumah-rumah makan, cafe, mall, hotel, kantor, kampus-kampus, dan bahkan warung-warung di pinggir jalan begitu sibuk saat menjelang magrib. Jalan-jalan macet, mereka seperti berbarengan keluar rumah mencari berbagai makanan, kue, dan buah, alias 'ngabuburit', dan ini menjadi sangat fenomenal.

Di mana-mana sibuk dan macet menjelang magrib. Mobilitas masyarakat begitu sangat luar biasa, saat menjelang magrib. Bahkan, mall-mall dan hotel sampai larut malam, menjelang hampir jam 23.00 malam. Terkadang di hotel-hotel menyelenggarakan shalat tarawih. Terutama dikalangan kelas menengah atas, sering menyelenggarakan acara kegiatan berbuka puasa.

Jalan-jalan tol macet, sampai menjelang tengah malam. Mereka baru keluar dari mall, hotel, cafe, rumah-rumah makan, dan tempat-tempat acara untuk berbuka bersama keluarga. Tapi, sekarang yang paling fenomenal, yiatu banyaknya anak-anak muda, yang menjadi acara berbuka puasa itu, sebagai sebagai 'fashion' baru. Inilah yang terjadi dikalangan muda di perkotaan alias masyarakat urban.

Tentu, ini seperti menjadi kekecualian, di mana saat Indonesia dicekik dengan krisis ekonomi yang sangat hebat, tapi kalau melihat fenomena anak-anak muda dan kalangan keluarga yang menyelenggarakan acara berbuka puasa berssama di berbagai tempat, dan ini bukan hanya di Jakarta. Tapi, kegiatan ini seluruh kota-kota besar di Indonesia, berlangsung kegiatan serupa.

Di tengah krisis ekonomi di Indonesia yang hebat, sebagian usaha terselamatkan dengan berbagai aktifitas Ramadhan ini. Berapa banyak keuntungan yang didapatkan dari mall, cafe, warung makanan, toko kue, hotel-hotel, dan berbagai tempat yang menyelenggarakan kegiatan berbuka puasa itu.

Belum lagi, sektor garmen, pakaian yang sekarang ini sedang dilanda krisis, tentu mendapatkan berkah dari Ramadhan. Baju-baju 'muslim' laris manis dibeli oleh berbagai kalangan Muslim dengan sangat antusias. Demi menyambut Ramadhan dan Idul Fitri.

Mereka mendapatkan berkah Ramadhan. Berapa banyak duit yang dibelanjakan masyarakat, dan berapa banyak keuntungan yang diperoleh selama Ramadhan ini? Sangat besar.

Ramadhan juga membawa kehidupan sosial lebih humanis (manusiawi), di mana shadaqah, infaq, dan zakat diberikan kepada fakir miskin. Orang-orang kaya bersedekah kepada fakir miskin, meskipun ini masih sangat relatif kecil.

Tapi, setidaknya uang yang berada di 'kantong' para 'aghniya' (orang kaya) menetes kepada orang miskin. Ini terjadinya distribusi kekayaana secara alamiah.

Belum lagi, ketika nanti mudik puluhan juta penduduk kota-kota besar di Indonesia, pulang kampung, dan membawa uang yang tidak sedikit, jumlah bisa menjadi ratusan tiliun. Sebuah laporan penelitian, uang yang dibawa para pemudik dari kota-kota besar, jumlah lebih dari Rp.200 triliun. Mengalir ke desa-desa.

Islam mengajarkan kemuliaan di antara para pemeluknya. Seperti silaturrahim atau silaturrahmi, ukhuwah dan mencintai sesama Muslim, dan berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain), ini menyebabkan setiap Muslim rela berkorban, pergi ke tempat-tempat yang sangat jauh, supaya dapat bertemu dengan sanak familinya.

Belum mereka yang menjadi migran (pekerja) di luar negeri, yang pulang kampung, dan mereka membawa uang yang tidak sedikit. Ini berdampak terhadap kehidupan rakyat di pedesaan.

Semua itu, berkah dari Ramadhan, dan sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kehidupan. Terjadi proses distribusi kekayaan yang sangat signifikan, tanpa melalui kebijakna pemerintah.

Dengan Ramadhan, kehidupan rakyat menjadi berdenyut, dan hidup kembali, di tengah himpitan krisis yang sangat menyiksa ini. Betapa Ramadhan yang begitu semarak, menjadi tanda sebuah kehidupan ini berkah, dan setiap Muslim mendapatkan berkahnya, termasuk kepada orang-orang non-muslim, dari kegiatan ekonomi mereka.

Kesadaran kolektif semakin tumbuh dikalangan Muslim melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebagian puasa masih sebagai 'fashion', belum lagi menjadi bagian keimanan dan keyakinan mereka, dan membuat mereka sungguh-sungguh dalam menjalankannya.

Sekarang, puasa tinggal 9 hari lagi, dan sebagian kalangan muda, mulai beribadah lebih serius lagi dengan melakukan 'i'tikaf' di berbagai masjid di seluruh Indonesia.

Mereka ingin mendapatkan 'maghfirah' (ampunan) dari Allah Tabarakallahu Ta'ala. Apalagi, saat sepuluh hari terakhir, di saat akan dijanjikan 'lailatur qadar', bulan yang lebih agung, dan akan mendapatkan ampunan bagi Muslim.

Semakin tahun semakin terasa denyut dari Ramdhan bagi kehidupan Muslim, dan bangsa Indonesia. Terasa tentram dan menyejukan.

Masyarakat terus berusaha mengubah puasa Ramadhan sebagai ibadah dan taqarrub (mendekatkan) diri kepada Rabbnya, dan menjadi pribadi yang lebih mulia dengan mengendalikan 'perut'. Tidak lagi menjadi hamba 'perut'.

Meskipun, sekarang ini puasa yang nampak dan baru menjadi 'fashion' yang masih berhubungan dengan perut. Di mana kegiatan berbuka puasa bersama seperti menjadi 'trend sosial' di mana-mana.

Semoga puasa di bulan Ramadhan, benar-benar akan menjadikan Mukmin yang muttaqin, dan mendapatkan kemenangan melawan hawa nafsu. Manusia banyak yang kalah melawan hawa nafsu, terutama nafsu keinginan. Semoga. Wallahu'alam.

posted from Bloggeroid

Minggu, 05 Juli 2015

Ngabuburit

Ngabuburit adalah satu istilah dari bahasa Sunda yang artinya menunggu datangnya waktu maghrib atau menunggu matahari sore terbenam. Sudah bertahun tahun kebiasaan ini dilakukan oleh masyarakat Sunda (Jawa Barat) khususnya anak-anak muda, akan tetapi keluarga muda (orang muda yang sudah berumah tangga) pun kadang tak ketinggalan ikut berbaur menikmati waktu sore yang cerah.

Mereka anak-anak muda akan keluar rumah masing-masing setelah waktu ‘ashar, lalu secara bergerombol atau perorangan pergi ke alun-alun atau ke tempat keramaian atau juga sekedar jalan-jalan di sekitar jalan alun-alun. Bagi para ibu mungkin hanya sekedar keluar rumah dan bertandang di halaman rumah tetangga. Nah kebiasaan inilah yang disebut ngabuburit.

Kalau di pelosok – pelosok perkampungan Sunda waktu lalu, menunggu datangnya waktu magrib, bagi yang sudah berkeluarga, mereka mengisi waktu dengan menganyam tikar (yang bahan dasarnya dari daun pandan yang telah diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi tali putih yang siap dijadikan tikar pandan) di halaman rumah masing-masing sambil bersenda gurau atau ngobrol tentang kejadian apa yang mereka alami di sawah waktu pagi harinya. Bagi anak-anak kecil setelah puas bermain biasanya akan sigrah (segera) membereskan peralatan sholatnya beserta Al-Qur’an yang akan dibawa ke surau (tajug, Jawa namanya langgar).

Sebelum pembicaraan berlanjut, maaf sebentar, saya akan bicara tentang surau atau tajug (Sunda), dan langgar (Jawa). Nama tempat sholat, surau, tampaknya mengalami pergeseran nama menjadi musholla. Itu merupakan perkembangan bahasa berkaitan dengan keadaan, di antaranya sejak setelah PKI (Partai Komunis Indonesia) kalah berontak yang kesekian, tahun 1965, nama surau, tajug, atau langgar itu dikenal dengan nama musholla.

Mungkin karena orang-orang PKI beramai-ramai ngeyup (berteduh dan berlindung) ke Islam, bahkan mereka ramai-ramai mendirikan surau, maka terjadi pergeseran bahasa, lebih difasihkan lagi istilah surau itu maka menjadi musholla, dari bahasa Arab. Padahal musholla sendiri dalam bahasa Arab itu artinya tempat sholat ied (hari raya) yaitu tanah lapang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

{ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ

Siapa yang memiliki keluasan lalu dia tidak menyembelih korban maka jangan sampai dia mendekati musholla kami. (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Di dalam lafal mushollana (مُصَلَّانَا ) itu pengertiannya adalah tanah lapang untuk sholat ied (hari raya).

Sedangkan surau sebenarnya juga masjid, hanya bukan masjid jami’ alias bukan tempat sholat Jum’at.

Kembali tentang ngabuburit, di Sunda masa dulu, anak-anak desa tempo dulu pada umumnya selalu bersemangat pergi ke tajug atau surau untuk melaksanakan sholat maghrib berjama’ah, lalu mengaji yang dibimbing oleh ajengan (kiyai) setempat, dan setelah sholat ‘isya berjamaah, mereka pulang dengan antusias tanpa ada pengaruh televisi di otaknya.

Jadi insya Allah isi catatan amalnya adalah baik, sebagai bekal kelak di akherat. Beda dengan sekarang, kemungkinan banyak orang, isi catatan amalnya, bagi yang banyak menghabiskan waktunya untuk nonton televise padahal waktu-waktu tersebut sangat berharga, maka betapa celakanya. Ketika masuk kubur, bekal amalnya hanya serba nonton televise. Apakah itu yang akan diandalkan ketika menghadapi malaikat kubur, serta di akherat kelak?

Awal Mula Penyimpangan Ngabuburit untuk Menunggu Waktu Buka Puasa

Andaikata tidak ada yang memulai mempromosikan istilah ngabuburit, apalagi itu bahasa daerah, mungkin tak ada yang mengenal istilah itu selain orang-orang Sunda (Jawa Barat).

Tetapi beberapa tahun terakhir ini istilah itu seperti sudah lekat di bibir semua warga Indonesia, terutama anak-anak muda perkotaan. Dan istilah itu popular pada saat datangnya bulan Ramadhan (bulan puasa).

Awalnya kenapa ngabuburit itu sekarang jadi popular pada ramadhan?

Ini berkaitan dengan adanya acara infotaimen di televisi swasta. Pada saat -saat Ramadhan beberapa tahun lalu, mereka mewawancarai artis-artis tentang kegiatan si artis pada saat bulan Ramadhan, dan beberapa artis yang diwawancara adalah artis-artis berasal dari Jawa Barat, antara lain adalah ND yang kala itu masih sering muncul di acara infotaimen. Ya namanya artis memang tidak akan jauh kegiatannya hanya seputar wara-wiri, kumpul-kumpul dan senang-senang. Dan ND itu bilang, bahwa ia untuk menunggu datangnya buka puasa itu ngabuburit.

Beberapa artis pun demikian ( bila diwawancara apa kegiatannya saat menunggu buka puasa), dan hal begitu selalu berulang, entah disengaja oleh pihak acara (untuk promosi agar anak-anak muda mengikutinya) atau kebetulan memang setiap artis yang diwawancara itu biasa ngabuburit untuk menunggu saat-saat buka puasa. Wallahu a’lam.

Yang pasti, sekarang ini fenomena ngabuburit pada saat Ramadhan benar-benar sudah memasyarakat, terutama pada anak-anak muda perkotaan. Pada saat sore tiba mereka keluar rumah dengan berkendaraan motor berboncengan dengan pasangannya atau bergerombol, mereka mendatangi tempat-tempat ramai atau jalan-jalan ke mal-mal (dengan pasangannya) atau bermotor ria memenuhi jalan-jalan raya. Dan alasan mereka tak ada lain “ ngabuburit!” menunggu waktu buka puasa!

Koran Republika juga pernah mengupas tentang ngabuburit. Tetapi mungkin dampaknya tidak seperti dari televisi. Masyarakat kita sangat cendrung cepat meniru, terutama anak-anak muda, apa lagi itu datangnya dari artis-artis.. Maka tak heran sewaktu si artis menyiarkan kegiatannya pada saat menunggu buka puasa adalah ngabuburit, baik ke mal-mal atau keliling berkendaraan, nah dicontohlah sekarang oleh masyarakat muslim, terutama anak-anak muda. Manfaat dan adab puasa sudah dirusak!

Mungkin mereka yang mempromosikan istilah ngabuburit saat puasa itu tak pernah merasa kegiatannya itu akan ditiru orang banyak dan tak menyadari kalau perbuatannya itu jadi mengandung dosa, kerena menyia-nyiakan waktu pada bulan yang milia (Ramadhan), atau lebih jelek lagi yang mengikuti ngabuburit itu anak muda yang kemudian berduaan dengan lain jenis (pasangannya) berkendaraan motor, (padahal Ramadhan bulan yang sangat mulia, tapi digunakan bermaksiat tanpa merasa berdosa) dan itu awalnya promosi dari mereka yang tak mengerti ajaran Islam, atau bahkan kurang menghiraukannya.

Dampak Ngabuburit Jika Dibiarkan

Andaikata fenomena ini (menunggu buka puasa dengan ngabuburit) didiamkan saja, boleh jadi generasi berikutnya atau generasi yang akan datang merasa ngabuburit itu bagian dari manfaat puasa atau paling tidak, menunggu buka puasa (ngabuburit puasa) tidak berdosa berduaan jalan-jalan menunggu buka puasa, menghabiskan waktu dengan sia-sia (atau malah melakukan dosa tanpa terasa) itu tidak mengapa. Sesungguhnya Islam tak pernah mengajarkan menunggu buka puasa dengan bersenang-senang, berduaan, jalan-jalan, menyia-nyiakan waktu!

Ada hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

{ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ } رَوَاهُ أحمد (2/443 ، رقم 9717) ، والبخارى (5/2251 ، رقم 5710) ، وأبو داود (2/307 ، رقم 2362) ، والترمذى (3/87 ، رقم 707) وقال : حسن صحيح . وابن ماجه (1/539 ، رقم 1689) ، وابن حبان (8/256 ، رقم 3480)

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum”. (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya).

Dalam hadist lain dikatakan :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَش

”Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (HR. Ahmad, hadist hasan shahih).

Tidak bisa dianggap sepele fenomena ini. Buktinya sebelum tersiar (sengaja dipromosikan) tentang ngabuburit pada bulan puasa, masyarakat muslim yang melakukan ibadah puasa pada umumnya, juga anak-anak muda kebanyakan hanya berdiam diri di dalam rumah masing-masing. Ada yang mendengarkan ceramah agama, ada yang berzikir, membaca Al-Qur’an, ada juga yang sibuk membagi panganan (sedekah) untuk buka puasa kepada tetangga atau kerabat dekat.

Sekarang fenomena ngabuburit ini sangat dinikmati oleh masyarakat muslim, (semua gara-gara digembar-gemborkan di media televisi) terutama anak-anak muda yang pemahaman tentang manfaat puasa Ramadhan, tentang adab puasa ini sangat minim. Mereka asyik berduaan berkendaraan, asyik tertawa-tawa bersama teman / kongkou-kongkou, ada yang asyik berbelanja.

Dan kecendrungan ngabuburit ini juga lebih terbuka lagi dengan adanya fasilitas mal-mal dan kendaraan bermotor. Bukankah manfaat puasa jadi hilang, boleh jadi puasanya hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja.

Wajibnya puasa di bulan Ramadhan telah Allah tetapkan di dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(183)

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183).

Sebagai orang Islam, seharusnya sangat mengetahui juga rukun puasa, manfaat puasa, keutamaan puasa, yang membatalkan puasa sampai adab berpuasa.

Adapun adab puasa sebagai berikut

Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu-, merahmati kita semua.
Bahwasanya puasa tidak sempurna kecuali dengan merealisasikan enam perkara :

Pertama: Menundukkan pandangan serta menahannya dari pandangan-pandangan liar yang tercela dan dibenci.
Kedua : Menjaga lisan dari berbicara tak karuan, menggunjing (ghibah), mengadu domba (namimah). Dan dusta.
Ketiga : Menjaga pendengaran dari mendengarkan setiap yang haram atau yang Tercela.
Keempat : Menjaga anggauta tubuh lainnya dari perbuatan dosa.
Kelima : Hendaknya tidak memperbanyak makan.
Keenam : Setelah berbuka, hendaknya hatinya antara takut dan harap. Sebab tidak tahu apakah puasanya diterima, sehingga ia termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah, ataukah ditolak sehinga ia termasuk orang-orang yang dimurkai. Hal yang sam a hendaknya ia lakukan pada setiap selesai Melakukan ibadah. ( Dikutip dari kitab : Risalah Ramadhan. Hal. 115-116 Karya : Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al- Jarullah. Al. Sofwa, Jakarta).
Sesungguhnya bagi setiap muslim itu wajib saling mengingatkan. Orang tua wajib mengingatkan anak-anaknya, suami wajib mengingatkan istrinya. Mari kitapun mengingatkan bahwa ngabuburit itu tidak bermanfaat bagi puasa kita. Semoga Allah selalu mengingatkan kita semua. Amin

posted from Bloggeroid